Mengenai Saya

Foto saya
'im not an adventurer by choice but by fate'

Minggu, 02 September 2012

Kabar dari mimpi, Tokyo





//Aku ingin begini
//Aku ingin begitu
//Ingin ini, ingin itu, banyak sekali.

            Menjalani masa kecil  seperti halnya anak-anak Indonesia pada umumnya, yaitu dengan menonton film kartun hingga overdosis. Ternyata hal itu berefek positif untuk kelanjutan hidup saya pribadi. mimpi untuk bisa pergi ke negeri sakura sudah melekat kuat,  hingga akhirnya penantian kabar dari mimpi itu berbuah manis.
Jalan Tuhan itu memang indah dengan segala ‘keanehannya’. Rasanya seperti baru kemarin saja, masa dimana harus menghafal kosa kata bahasa Jepang serta tulisan kanji. kursus menulis dan membaca huruf kecambah (kanji). Semua itu hanya untuk bisa pergi dan bekerja di negeri sakura. Walau akhirnya niat itu harus kembali urung, memang Sudah alurNYA mesti  bekerja dan terdampar dulu di Kalimantan sampai Maluku. Tapi yakin Tuhan masih punya rencana lain, inilah jawaban lugas dariNYA atas mimpi masa kecil itu. kabar baiknya, saya pergi kesana hanya untuk sekedar have fun saja, jalan-jalan :D bukan untuk bekerja yang berujung pada stress, hahaha. Allhamdulillah.
1-2 september 2012
          
  Jika bukan karena Tokyo dan Fujiyama, malas rasanya harus megurus birokrasi passport dan visa. Lagu lama gaungnya masih saja rata, kira-kira begitulah birokrasi di negeri ini. Teringat bagaimana cemas terus melekat selepas pengajuan aplikasi untuk visa. Terlebih ketika tiba harinya pengambilan visa tersebut. Rasa cemas makin memuncak saja, karena ternyata kedutaan dari Jepang ingin wawancara secara langsung. Nampaknya beliau ingin memastikan kalau saya memenuhi persyaratan dan akan baik-baik saja selama di Jepang. Karena selain pergi seorang diri, dalam itenary dicantumkan pendakian ke Fujiyama. Jangankan gunung yang ada di luar negeri, beberapa gunung yang ada di Indonesiapun akan sedikit dipersulit dalam mengurus izin pendakian solo. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab dengan bahasa inggris yang terbata-bata bercampur bahasa Jepang sebisanya.
Beruntung hari itu memakai kaosnya bang Willem Tasiam yang bertemakan ‘Pendakian Marathon 30 Gunung 27 Hari’. Setelah membaca tulisan di kaos tersebut, beliau hanya geleng-geleng kepala menatap kagum. Wawancarapun berakhir tanpa mempertanyakan skill dan semua tentang pendakian. Terimakasih bang Willem.Tak lama setelah proses wawancara berakhir, akhirnya dokumen pengajuan visa disetujui. Allhamdulillah Tokyo semakin dekat saja dengan nyata.
selepas cemas berkepanjangan karena penantian visa,  pikirpun sudah mulai berpacu kembali dengan apa yang harus disiapkan selama perjalanan. Tiket, perbekalan, hingga rencana kegiatan selama di sanapun disusun secara mendadak. Nasib orang yang kuli yaitu tidak mempunyai waktu yang cukup fleksibel.
Kembali, karena semuanya serba mendadak, tidak terlalu berharap bisa mendapatkan tiket promonya air asia, dengan terpaksa membeli tiket garuda yang harganya cukup menguras isi kantong. 1 September 2012 dengan menggunakan garuda penerbangan malam perjalananpun dimulai dengan rute Jakarta (Soetta)-Bali (ngurahrai)-Tokyo (Narita).
Memasuki midnight, pulau dewata mulai terlihat. Transit 3 jam di Denpassar pasti akan terasa lama. Setibanya di bandara Ngurahrai, langkahpun dengan pasti menuju ke salah satu café. Kopi adalah Cara untuk menikmati waktu tanpa harus memakinya. Sendiri menikmati malam di pulau dewata ditemani secangkir kopi. Menjadikan kenangan akan tempat ini semakin menjadi saja. Dewata, ada banyak kenangan disana.
2 september 2012, 00:30 wita, sepertinya waktu sudah mengizinkan untuk check in kembali ke pesawat. walaupun pikiran masih ingin bermain dengan angannya tapi mata punya ingin lain. Ia mulai menuntut haknya, menutup dan kemudian gelap. Semoga saja terus gelap hingga 7 jam kedepan. Karena bukan hal yang menyenangkan berada dalam pesawat selama itu.
2 september 08:30 waktu setempat, inilah jawaban atas penantian mimpi itu. Narita airport, bisa juga menjejakan kaki di negeri sakura. Suasana hati semakin tak pasti, antara takjub dan masih tak percaya bisa sampai sejauh ini. Setelah semua urusan keimigrasian selesai, tak pernah bosan untuk segera bertanya ‘dimana letak smooking room??’.  butuh ketenangan dengan sedikit asap untuk bisa  menikmati semua ini. Tak terasa sudah hampir 5 batang roko habis di dalam smooking room. Mata dan pikir masih sibuk dengan alur yang sudah tertulis di buku kecil, mencoba merealisasikan semua yang sudah diisyaratkan pena. Berbekal coretan kecil inspirasi dari smooking room sudah cukup bisa meyakinkan hati untuk melanjutkan perjalanan.



Stasiun bawah tanah narita

Banyaknya papan petunjuk sepanjang perjalanan yang mudah dipahami mata, menekan rasa khawatir saya terhadap penyakit disorientasi akut ketika berada di kota. Dan jika masih bingung, jangan sungkan untuk bertanya pada orang Jepang. Jangan tertipu dengan wajah dingin, datar, tanpa nyawa. Walaupun begitu, ketika kita bertanya atau meminta bantuan, mereka akan sangat senang membantu. Menguasai sedikit bahasa Jepang sangat disarankan untuk anda yang akan berpetualang di sini. Fakta dilapangan, hanya sedikit orang Jepang yang fasih dengan English, tetapi jangan khawatir walaupun mereka memberi petunjuk dalam bahasa Jepang bahkan merekapun tahu, kita tidak mengerti sama sekali apa yang mereka ucapkan. Mereka takkan meninggalkan kita dalam kebingungan, berusaha menerangkan apa yang dia maksud dengan berbagai cara. Bisa dengan bahasa tubuh atau menggambarkan peta sederhana untuk kita. Mereka pasti berusaha keras agar kita mengerti dengan apa yang mereka coba jelaskan. Welcome to the japan J
tiket nex JR
            Berbekal tiket nex JR (kereta) perjalanan berlanjut ke stasiun Shinjuku. Shen Shinjuku adalah  stasiun besar yang berada di pusat keramaian Tokyo. Ditempuh dalam 2 jam perjalanan dari Narita Airport.
             Tokyo, sore hari saat musim panas tak ubahnya dengan Bandung. Hari yang cukup hangat untuk memberi sebuah kejutan pada teman lama. Dibalik telephone umum kusapa seorang teman lama yang kebetulan bekerja di Edogawa. Sepertinya dia masih tak percaya kalo temannya yang gembel ini sudah sampai di Tokyo. Setelah lama bersua lewat telephone, percakapan berakhir dengan kesimpulan, menunggunya datang menjemput di sekitar area perbelanjaan Takashimaya.
teman... :)
Menikmati ramainya orang yang lalu-lalang di sepanjang jalan ternyata bisa juga mengelabui waktu yang biasanya terasa bosan jika ditunggu. Hingga akhirnya senyum seseorang dari kejauhan membawa ingatan ke masa 10 tahun silam. Teman, tak disangka setelah sekian lama kita baru bisa bertemu lagi di sini.
Layaknya seorang teman yang terpisah lama, sepanjang jalan sepertinya takkan habis bercerita tentang kisah selama terpisah ini. Dan itulah saya, bukan orang hebat, Hanya orang beruntung. Beruntung karena dikelilingi orang-orang hebat. Terbukti pada saat-saat seperti ini, ketika merasa ‘terasing’ arti temanlah yang bisa menjawab semua keterasingan itu.
Wisata Kuliner
Perut yang lapar membawa langkah kami ke sebuah café kecil di jalanan Shinjuku. Bisa dibilang bagian ini termasuk kedalam daftar yang ditunggu, wisata kuliner. Dan entah kenapa, makanan Jepang tidak begitu bisa diterima oleh lidah saya. Baik restaurant Jepang yang ada di Indonesia maupun di Negara asalnya. Pupus harapan untuk bisa menikmati makanan di sini.
             Dan lagi, peran seorang teman menjadi sangat dominan ketika dia mempersilahkan untuk tinggal di tempatnya selama berada di Jepang. Allhamdulillah, terimakasih banyak untuk mang yudha dan teman-teman atas tumpangannya :D
            Perut yang kenyang serta mentari yang kian samar seperti alarm yang mengingatkan untuk segera beristirahat, pulang. Dari stasiun Shinjuku kami bertolak ke stasiun Funabori (Edogawa). Lupakan sejenak tidur cukup dan nyenyak untuk malam ini, karena masih banyak hal yang perlu disusun ulang untuk pendakian solo Fujiyama besok. Info serta masukan dari teman untuk pendakian Fujiyama sangat membantu. Dari mulai rute, buged sampai semua data yang dibutuhkan pendaki pada umumnya dia jabarkan secara terperici, lepas tengah malam mata dan tubuh mulai kompak bekerjasama untuk mogok gerak. Saatnya beristirahat untuk persiapan esok, pendakian solo Fujiyama

 


  
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar