Mengenai Saya

Foto saya
'im not an adventurer by choice but by fate'

Selasa, 17 Januari 2012

Mumi made in Indonesia Londa





Goa Londa merupakan goa alam yang dijadikan tempat pemakaman para leluhur Tana Toraja. Goa ini terletak di desa Sandan Uai, kecamatan Sanggalangi, sekitar 7 kilometer dari pusat kota Makalele, Toraja. Gua ini memiliki kedalaman sekitar 1000 meter, gelap, di beberapa tempat naik turun cukup terjal, dan sebagian hanya memiliki ketinggian sekitar 1 meter sehingga orang harus membungkuk melewatinya. Di dalam gua terdapat ratusan tengkorak dan ribuan tulang belulang yang sebagian sudah berumur ratusan tahun. Banyak juga peti-peti mati yang masih baru. Udara di dalam gua terasa sejuk, tidak pengap ataupun berbau meskipun di dalam gua terdapat banyak mayat.
Di Tana Toraja, Goa Londa dianggap sebagai tempat yang dikeramatkan. Meskipun demikian, siapa saja termasuk anda dapat berkunjung ke goa ini. Namun sebelum menelusuri Goa Londa lebih jauh lagi, anda diwajibkan untuk menjalankan beberapa aturan adat yang berlaku di tempat ini. Aturan terpenting yang harus dipatuhi yakni anda tidak diperkenankan untuk memindahkan ataupun mengambil tulang manusia meskipun tulang itu tampak berserakan di sudut goa. Jika berkenan, anda dapat membawa sesaji seperti sirih, pinang, serta aneka bunga sebagai permohonan ijin kepada leluhur.
Tau-tau
Sebelum masuk ke dalam mulut goa, anda dapat melihat beberapa buah Tau-tau yang diletakkan berderet di puncak Goa Londa. Dalam bahasa Tana Toraja, Tau-tau diartikan sebagai patung dari jenasah yang dimakamkan di dalam Londa. Konon, Tau-tau awalnya hanya dibuat untuk menentukan jenis kelamin mendiang. Jika yang meninggal kaum perempuan Toraja, Tau-tau dibuat sedemikian rupa mirip seorang wanita dan dilengkapi dengan baju wanita khas Toraja.
Jika yang meninggal lelaki, patung Tau-tau dilengkapi dengan pakaian lelaki adat Toraja. Namun kini, Tau-tau dibuat sedemikian rupa hingga terlihat mirip dengan wajah mendiang. Seringkali, di Tau-tau itu juga disertakan harta benda kesayangan dari jenasah yang dimakamkan di Londa. Untuk melihat daya tarik dari Londa lebih dekat lagi, anda dapat menelusuri goa yang panjangnya mencapai seribu meter ini dengan berjalan kaki.
Tehnik gratisan
nebeng ma rombongan orang lain
Sebelum menelusuri goa ini, anda dapat membeli tiket di loket masuk Goa Londa. Untuk mempermudah langkah anda selama berada di dalam goa, disarankan untuk membawa lampu penerangan, seperti senter. Jika tidak, anda dapat menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah atau petromak yang disewakan dengan harga berkisar 25 ribu rupiah per unit. Kecuali jka anda berjalan sendiri seperti saya, anda tinggal duduk santai menunggu rombongan lain masuk, ikut nimbrung dag berbaur dengan kelompok orang lain, anda dapat guide sekaligus penerangan tanpa harus bayar, hehehe.
Tidak terlalu jauh dari pintu masuk Goa Londa, anda dapat menjumpai beberapa erong. Erong merupakan peti mati khas Toraja yang tertanam di dinding goa. Hingga kini, di dalam erong itu juga masih tersimpan tulang dari jenasah yang konon telah meninggal ratusan tahun lalu. Di dinding goa yang tersusun dari batu kapur itu terdapat beberapa buah erong. Tinggi dari setiap erong yang tertanam di dinding Goa Londa tidaklah sama. Semakin tinggi derajat atau status sosial dari sang mendiang, semakin tinggi pula posisi peletakan peti matinya.
Ketika berada di dalam goa, anda dapat menjumpai puluhan tengkorak dari kepala manusia yang terlihat berserakan di setiap sudut goa. Bagi anda yang belum pernah melihat kondisi Goa Londa, suasana di goa ini terasa cukup mencekam. Namun bagi anda yang gemar berpetualang, suasana mencekam itu justru dijadikan ciri khas tersendiri dari Goa Londa. Anda tertarik untuk mengetahui jenasah siapa saja yang dimakamkan di Goa Londa? Para pemandu wisata Goa Londa siap membantu anda.
Dalam waktu tertentu, masyarakat Tana Toraja datang ke Goa Londa untuk ziarah ke makam para leluhur mereka. Ketika berada di dalam goa, mereka tak hanya berdoa, melainkan juga mempersembahkan sesaji, seperti sirih, pinang, serta aneka bunga. Seringkali, mereka membawa sesaji yang diyakini sebagai kesukaan dari sang mendiang, seperti rokok, sepiring makanan, serta sebotol air putih.

Sabtu, 14 Januari 2012

Pendakian solo estafet Binaiya-Rante Mario, "Rante Mario".



            Makassar 100112, badan masih terasa melayang ketika landing di Bandara Hasanudin. Nampaknyak butuh semangat secangkir kopi dulu sebelum melanjutkan perjalanan. CafĂ© di salah satu sudut bandara menjadi pilihan untuk sekedar melepas penat. Secangkir kopi penuh inspirasi, teman setia ketika harus memutar otak, merealisasikan arah perjalanan ini. kemana kita selanjutnya???
Ngumpul with anak2 Unhas
            Sepertinya base camp Mapala Unhas 09 akan jadi tempat menumpang hidup selama di Makassar. Terlebih karena banyak data pendakian yang harus dipelajari di sana. Setelah 20 menit berpegal-pegal duduk di atas motor ojeg dengan beban ransel berukuran huge, sampailah pada sebuah komplek bangunan yang megah. Diantara bangunan megah itu, ada sebuah bangunan yang dihuni oleh mahasiswa yang mayoritas berambut gondrong. Sampai juga di base camp Mapala Unhas 09 disambut dengan baik oleh anggota yang kebanyakan berambut gondrong, like this. Salam gondrong :D
Nongkrong di Losari
with flend
            Dari info yang didapat dari teman-teman di Mapala, pendakian ke atap Sulawesi ini terbentur masalah transfortasi menuju desa terakhir. Oleh sebab itu pendakian hanya bisa dilakukan pada hari-hari tertentu, tepatnya hari pasar. Untuk lebih jelasnya akan saya akan jabarkan nanti di rute singkat untuk Rante Mario. Singkat cerita pendakian baru bisa dimulai dari Makassar pada hari rabu 110112. Lumayan punya waktu lebih untuk meluruskan tulang-tulang sisa pendakian binaiya.
            110112, Hujan dan angin kencang malam itu terasa menusuk kulit. Semua orang berlari mencari tempat berteduh. Belum di gunung cuaca sudah sedemikian jelek. Tidak terlalu berharap dapat cuaca bagus ketika naik pegunungan Latimojong nanti. Tembakau dan salah seorang anggota dari Mapala Unhas jadi teman menikmati hujan malam itu. Terminal Daya, Makassar di sinilah perjalanan menuju Latimojong dimulai.
            Malam dalam mobil Avanza terasa sangat panjang, ditambah dengan kondisi jalan yang hancur dan berlubang membuat tubuh ini sulit sekali untuk bisa terlelap. Setelah 7 jam perjalanan yang sama sekali tidak nyaman, tibalah di sebuah pasar tradisonal di daerah Enrekang yang bernama pasar Baraka.
            120112, Hari masih buta ketika tiba di pasar Baraka. Mata yang masih berat menuntun tubuh ini pada sebuah pos ronda (S30 24’ 13.8” E1190 51’ 12.4”) di salah satu sudut pasar. Rasa dingin dan kantuk membuat tubuh ini tak segan untuk segera bergabung dengan bapak-bapak hansip yang nampaknya terlelap pulas di dalam pos tersebut. Terlelap…
            Suara bising kendaraan yang hilir mudik di depan jalan pos seperti alarm yang tidak bisa dimatikan. Walaupun langit belum sepenuhnya terang, aktifitas pasar sudah mulai bergeliat. sepertinya butuh penyemangat untuk mengawali hari ini. sendiri berjalan sempoyongan keliling pasar mencari warung inspirasi (warung kopi). Tidak terlalu sulit mencari warung inspirasi di pasar, hanya beberapa langkah sudah bisa ditemukan dengan mudah.
            Kopi untuk semangat pagi ini, sekaligus media untuk berkumpul dan bertanya hahahah. Sangat mudah juga mengorek informasi yang diperlukan untuk perjalanan kali ini. bermodalkan satu gelas kopi, semua info sudah bisa diserap dengan baik. Tak perlu khawatir nyasar sampai tujuan. Secara kebetulan di warung kopi tadi ada salah seorang bapak yang akan meneruskan perjalanan ke tempat tujuan yang sama, Rante Lemo. The lucky coffe.,.
            Sempat merasa sepertinya ini bukan mobil yang akan saya tumpangi, mobil hard top yang terlihat tua seperti mobil-mobil di Bromo. Nampak muatan mobil sudah sesak dengan barang-barang pasar. Pertanyaanya akan dimuat di mana badan para penumpang???
            Di sini, barang-barang muatan pasar lebih beharga daripada keselamatan penumpang. Sudah menjadi kebiasaan dimana barang disusun rapi dan nyaman di dalam mobil sementara para penumpang bergelantungan di antara sela-sela mobil yang memungkinkan. Atau seperti ibu dan seorang anaknya yang duduk santai di atas kap mobil. Dan saya sendiri hanya bisa menempelkan satu kaki pada bagian belakang mobil.
            Perjalanan dari Baraka menuju Rantelemo di tempuh dalam waktu 3-4 jam dengan medan off road melewati punggungan perbukitan, menyebrangi sungai, tak jarang mobil terjebak dalam kubangan. Jurang dalam pada bagian sisi kanan jalan menjadi daya tarik sekaligus kengerian karena sudah banyak mobil naas terjun bebas ke dalam jurang tersebut.
            Sampai di desa Rantelemo (S30 25’ 59.1” E1190 58’ 08.4”) perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju desa karangan. Sesampainya di desa Karangan, cari saja rumah pak kades (S30 25’ 14.1” E1190 59’ 14.7” ± 1466 mdpl) letaknya dekat mesjid. Di rumah pak Kades ini biasanya para pendaki mengurus Izin dan menginap untuk kemudian besok paginya melanjutkan pendakian.
            Desa karangan adalah desa penghasil kopi di Latimojong, tempat ini adalah surganya coffe lovers. Hahahaha, kopi asli buatan masyarakat dengan rasa yang khas bisa anda nikmati sampai muntah. Selama anda di rumah pak kades, makan, kopi sudah beliau sediakan. Menginap di sinipun tidak dpungut bayaran, hanya uang sukarela, besarnya tergantung dari pribadi masing-masing saja.
            130112, pagi yang cukup dingin ditambah hujan semalam makin buat saya ragu bisa menangkap momen yang cantik di Latimojong. Sarapan pagi yang disiapkan oleh keluarga pak Kades, sepertinya cukup untuk memulai pendakian ini. ditemani cahaya mentari yang agak samar, sayang sekali cuaca masih saja hitam.
Petunjuk jalur yang jelas
            Pada awal pendakian, pemandangan kebun kopi dan ladang warga jadi teman setia. Jalan cukup jelas, hanya saja ada satu cabang di kebun kopi, di S30 24’ 57.2” E1190 59’ 50.3” anda ambil belok kiri. Selanjutnya jalur sangat jelas. iKuti saja jalan setapak hingga nanti menyebrangi sungai kecil dan naik ke ladang jagung. Setelah melewati sungai dan ladang jagung medan kini mulai mendaki melewati perbukitan ladang penduduk sampai di pos 1.
            Pos 1 (S30 24’ 51.6” E1190 59’ 52.6” ±1800 mdpl) ini menjadi pembatas antara ladang warga dan jalan menuju hutan hutan. Selepas pos 1 jalanan akan semakin terjal menaikki perbukitan setelah itu menurun memasuki hutan dan akan terus menurun hingga pos 2 (S30 24’ 36.8” E1200 00’ 24.9” ±1856 mdpl). Dalam keadaan normal pos 2 bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam dari pos 1. Jika anda berjalan cepat maka tiap pos bisa anda leawati dalam waktu 1 jam.
            Letak pos 2 yang berada di samping sungai yang alirannya deras cocok dijadikan tempat untuk makan siang. Sebelum melanjutkan perjalanan ke pos 3. Sebaiknya fisik anda siapkan dengan baik ketika akan melewati medan menuju pos 3. Karena, medan dari pos 2 menuju pos 3 adalah medan tersulit sepanjang jalur pendakian menuju puncak. medan yang terjal dengan kemiringan antara 450-700. Tebing-tebing bebatuan yang licin membuat para pendaki harus ekstra waspada. Untuk pos 2 sampai pos 3 biasanya ditempuh dalam waktu 2 jam. Selepas pos 2 sebaiknya anda mulai menghemat air untuk berjaga-jaga. Karena anda tidak akan menemukan sumber air hingga nanti di pos 5 dan pos 7.
            Tiba di pos 3 (S30 24’ 27.1” E1200 00’ 28.0” ±1940 mdpl) dengan perasaan lega, karena medan pendakian berikutnya cukup bersahabat, tidak terlalu terjal. Melalui pos 4 (S30 24’ 18.6” E1200 00’ 42.8” ±2140) tanpa hambatan, hanya saja kabut yang tebal membuat perasaan akan hujan semakin menjadi. Waktu masih menunjukan pukul 15.30 wita ketika sampai di pos 5 (S30 24’ 04.2” E1200 01’ 09.3” ±2605 mdpl). Secara perhitungan, perjalanan masih memungkinkan untuk dilanjutkan sampai pos 7 sebelum gelap. Tapi, rintik hujan memaksa langkah terhenti di pos 5 ini. Sendiri dalam hutan diantara rintik hujan sibuk mendirikan tenda untuk bermalam. Rencana awal untuk mendirikan tenda di pos 7 tidak memungkinkan karena hujan.
            Dengan terpaksa tenda berdiri di pos 5. Diantara pos yang ada, dan cukup memungkinkan untuk mendirikan tenda adalah pos 2,5 dan 7. Karena di pos tersebut ada sumber air. Pengecualian untuk  pos 5, sebaiknya dihindari mendirikan tenda di sini, karena jarak menuju sumber air lumayan cukup jauh. 1 jam perjalanan pulang-pergi dari tempat mendirikan tenda.
            semenjak hujan dari sore sampai malam, bahkan ketika mata ini akan menutup, hujan masih saja berlanjut. Niat untuk bangun pagi dan memulai summits attack dari pos 5 pun terhalang hujan lagi. Hujan baru reda esok pagi sekitar pukul 07.00 wita.
            Pagi 140112, Jalanan nampak basah dan becek, ttik-titik air masih deras menetes diantara dedaunan. Saatnya melangkah kembali, melakukan sesuatu yang mungkin jarang dilakukan orang ketika naik latimojong, summits attack dari pos 5 :D. umumnya para pendaki summits attack dari pos 7. Tapi karena mendaki seorang diri, sehingga terasa beban kalau harus membawa ransel dengan perlengkapan penuh sampai di pos 7. Sehinnga summits attack dilakukan di pos 5. Dengan harapan, perjalanan  bisa ditempuh lebih cepat jika tidak membawa beban.
            Tanpa beban yang terlalu berat, langkah terasa lebih ringan. Untuk petunjuk sepanjang pendakian latimojong cukup jelas. Hampir setiap 5-10 meter ada tanda pita merah di ranting pohon. Pos 6 (S30 23’ 58.4” E1200 01’ 23.6” ±2844 mdpl) dilewati dengan mudah hanya 40 menit perjalanan. Sayang sekali sepanjang jalan kabut begitu tebal. Jarak pandang hanya 5-10 meter, cuaca memang jadi kendala utama mendaki di bulan Desember-Januari. Kebiasaan mengambil gambar mulai terlupakan. Sepanjang jalan hanya kabut, jadi bingung apa yang akan di foto???.
            Setelah melewati jalanan setapak yang mendaki, tibalah di tempat yang lapang seperti padang rumput, inilah pos 7 (S30 23’ 41.4” E1200 01’ 38.8” ±3100 mdpl). Jika cuaca sedang cerah anda sudah bisa dapatkan momen negeri di atas awan di pos 7 ini. ikuti saja petunjuk jalur yang sudah ada untuk mencapai puncak Rante Mario. Namun sebaiknya anda ingat-angat atau tidak beri tanda khusus pada jalur yang sudah anda lewati. Karena jalur dari pos 7 menuju puncak akan banyak bercabang. Hal ini dikarenakan kawasan puncak adalah pertemuan jalur pendakian dari berbagai arah. Salah satunya dari Toraja.
            Navigasi GPS akan sangat membantu jika anda belum tahu betul kondisi jalur di puncak. kabut yang tebal sudah berubah jadi titik-ttik gerimis, langkah tak mungkin terhenti di sini. Tranggulasi pertanda puncak hanya tinggal beberapa ratus langkah lagi.
Puncak Rante Mario
            10.00 wita tiba di sebuah tempat sakral dengan tranggulasi yang sederhana penanda puncak, inilah atap Sulawesi, Puncak Rante Mario (S30 23’ 05.8” E1200 01’ 27.5” ±3478 mdpl). Hanya beberapa menit saja berada di puncak tertinggi di Sulawesi ini. karena hujan yang turun semakin deras. Memaksa saya untuk terus melangkah pulang ke pos 5.
            Sekitar pukul 13.00 tiba di pos 5 dengan baju yang basah kuyup. Sendiri, menggigil kedinginan, segera masuk tenda dan ganti pakaian. Nyalakan trangia, selain kopi trangia dalam tenda berfungsi ganda sebagai penghangat. Nyala api dari trangia lumayan cukup untuk sekedar menghangatkan tubuh.
Belajar pengambilan malam
Pos 5
            Beberapa menit dalam tenda, hujan berhenti. Terpikir untuk kemudian segera packing dan pulang, menjadikan pendakian ini hanya ditempuh dalam 2 hari 1 malam. Namun cuaca seperti ini akan sukar sekali untuk ditebak. Ditambah beberapa dokumentasi foto yang masih minim memaksa untuk tinggal satu malam lagi di pos 5.
            150112, pagi yang masih sama, belum ada banyak perubahan, sejauh mata memandang hanya putih, kabut tebal. Setelah sarapan dan packing bersiap untuk turun. Langkah kini tidak terlalu tergesa-gesa hanya mata yang berkeliaran kanan-kiri berharap ada momen bagus yang bisa di foto.
Keanekaragaman
jamur di hutan tropis
Buah kalpataru
            Jamur yang ada di hutan tropis latmojong sedikit menyita perhatian mata. Warnanya yang variatif menjadikan jamur-jamur ini nampak cantik. Karena terlalu sering mengambil gambar jamur, secara kebetulan juga menemukan buah kalpataru, buah khas dari latimojong. konon butuh keberuntungan untuk bisa menemukan buah ini, sampai sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana bentuk pohon dari buah kalpataru ini. bentuknya mirip dengan buah pinus hanya saja buah kalpataru sedikit lebih bulat. Cocok dijadikan aksesoris kalung.
            Pos demi pos terlewati, hingga akhirnya tiba di pos 2. Di tempat ini langkah terhenti dulu untuk waktu yang cukup lama, Istirahat dan makan siang. Namun sayang ketka menikmati makan siang hujan kembali turun deras. Untung saja pos 2 ini tempat yang teduh oleh bebatuan tebing yang membentuk roof. Anda bisa berteduh dengan santai di bawah tebing.
            1 jam, 2 jam berlalu hingga sore nampaknya hujan belum memberikan tanda-tanda akan mereda. Hari sudah mendekati gelap, sepertinya hujan akan lama dan tak bisa ditunggu reda. Bismillah, langkah pasti kembali terayun menembus hujan lebat.Untung saja jarak dari pos 2 hingga desa bukanlah jarak yang terlalu jauh. Jika turun, Bisa ditempuh dalam waktu 2 jam.
            Adzan magrib sudah berkumandang ketika melewati mesjid di desa Karangan. Langkah tertuntun pada satu bangunan di samping mesjid. Rumah pak Kades, allhamdulllah bisa kembali ke rumah ini lagi dengan selamat walau dengan basah kuyup.Malam terakhir di rumah Kades dilewati tanpa bergadang minum kopi seperti malam sebelumnya. Badan sudah meminta haknya untuk beristirahat lelap. Dan meneruskan perjalanan esok pagi ke Londa Mumi made in Indonesia Londa


Rute Sederhana Pendakian Rante Mario

Transportasi dan akomodasi dari bandara sampai desa Karangan

Rute
Transfortasi
Tarif/Ongkos
Waktu Tempuh
Bandara- Terminal Daya Makassar
Bis Bandara
Ojeg
Rp. 15.000
Rp. 25-35.000
± 20 menit
Terminal Daya Makassar-Baraka
Mobil
Rp. 40.000
± 7-8 jam
Baraka-Rante Lemo
Mobil
Rp. 20-30.000
± 3 jam
Rante Lemo-Karangan
Mendaki
-
± 3jam

Dari Jakarta menuju Makassar Sebaiknya memilih penerbangan malam, cari maskapai yang punya jadwal landing malam/sore di Makassar.
Mobil yang berangkat dari terminal Daya Makassar menuju Baraka ada setiap harinya. Tapi karena jadwal mobil dari Baraka ke Rante Lemo hanya ada pada hari pasar yaitu pada hari Senin pagi dan kamis pagi. Jadi sebaiknya, berangkat dari Makassar pada hari minggu malam atau rabu malam.
Sedangkan untuk pulang, mobil dari Rante Lemo menuju Baraka ada pada hari senin sore, kamis sore dan minggu pagi. Sampai di Baraka sudah malam, tetapi masih ada banyak mobil dengan tujuan Makassar.
Untuk perizinan tidak terlalu ribet, bisa langsung di urus di rumah bapak Kades Karangan dengan membayar sumbangan sukarela.
Dalam keadaan normal puncak Rante Mario bisa dicapai dalam waktu 6 hari dari Makassar, contoh rencana perjalanan
Hari pertama (rabu malam), berangkat dari Makassar  rabu malam sampai di Baraka kamis pagi.
Hari kedua (kamis), Baraka-Rante Lemo. Tiba di Rante Lemo pada kamis sore. Perjalanan diteruskan ke Desa Karangan dengan jalan kaki ± 3 jam. Jalan mendaki, cukup lebar dan jelas. Tiba di Karangan sekitar magrib. bisa menginap di rumah bapak Kades.
Hari ketiga (Jumat), Karangan-pos 7. Disarankan berangkat sepagi mungkin dari Karangan.
Hari keempat (sabtu), Summits Attack kemudian turun hingga pos 2.
Hari kelima (Minggu), pos 2-Karangan.
Hari keenam (senin), tengah hari sekitar pukul 12.00 wita anda bisa turun dari desa Karangan menuju desa Rante Lemo. Sekitar sore mobil menuju Barak.  Tiba di Baraka pada malam hari dan bisa langsung dilanjut ke Makassar.
Untuk jalur menuju Rante Mario sangat jelas petunjuknya. Hampir setiap 5-10 meter bisa ditemukan pita merah sepanjang jalur pendakian. Pengecualian ketika summits Attack dari pos 7 menuju puncak, walaupun ada petunjuk pada setiap jalur namun jalur menuju puncak ini bercabang banyak. lebih dari 100 titik point GPS sudah saya dokumentasikan. Bagi yang membutuhkan silahkan bisa hubungi saya di rikikp@Yahoo.co.id

Semoga bermanfaat.

Kamis, 05 Januari 2012

Pendakian Solo Estafet Binaiya-Rante Mario , "Binaiya".



            Sebelum pergi mendaki, sempat ada masalah mengenai izin pendakian. Karena Kantor TN manusela masohi tutup ketika hendak mengurus izin. Tanpa izin pendakian, sempat ditahan warga. Tapi setelah saya jelaskan duduk perkaranya. Akhirnya diambil keputusan untuk menelpon pihak TN manusela, dan meminta izin via telelepon. Allhamdulillah diizinkan juga. Sebenarnya ada kantor lain yang bisa mengurus izin pendakian selain yang ada di  masohi. Yaitu di Tehoru, jika pendakian dilakukan ketika waktu libur kerja sebaiknya izin diurus di Tehoru, karena kantor yang berada di Tehoru ini buka setiap hari tanpa libur.
            Pendakian diizinkan dengan syarat saya harus membawa dua orang potter. Awalnya cuma satu potter saja, tapi setelah melihat ransel dengan ukuran besar. Nampaknya nyali potter mulai ciut dan meminta ada satu potter lagi untuk bergantian membawa ransel. Sempat emosi juga ketika ada penambahan potter. Dalam hati, ah masa kalah ma orang kurus penyakitan seperti saya??? Saya saja bawa ransel itu sendirian tanpa bantuan orang lain dan sudah banyak gunung. Tapi karena berada di tanah orang, tidak bisa berbuat banyak. Ya sudahlah anggap saja bagi-bagi rezeki. Walaupun pada awalnya, sama sekali tidak mau ditemani seorang potterpun. karena ingin mendaki solo ke puncak Binaiya. Terbentur dengan aturan yang tidak memperbolehkan pendakian tanpa potter. Yang terpenting bisa keluar desa dulu, masuk hutan, nanti susun rencana lagi setelah di dalam hutan. hehehe
Finally, setelah perjalanan yang tdak seperti biasanya, panjang dan sedikit aneh. Dari awal kaki ini meninggalkan P. Obi (Kopi pagi rasa pyton di soligi) hingga  terdampar di desa Temi karena badai(Dilempar Badai di Perairan Seram Terdampar di Temi) Akhirnya bisa juga memulai pendakian Binaiya ini. walaupun dengan kepala yang masih berat karena acara perayaan tahun baru dari kemarin sampai tadi pagi(Perayaan Tahun Baru di Piliana Cakalele dan Legenda kolam ninpala) Kurang istirahat, hanya 3 jam terlelap. Tidur jam 5 pagi bangun jam 8, hadeuh. Pukul 09.00 wit 020112 pendakian ini dimulai, finally but its just beginning. Hehehe.

Hari pertama
A. Piliana (S30 16’ 12.0” E1290 32’ 54.2” ± 425 mdpl)-Lukuamano (S30 14’ 43.1” E1290 30’ 51.0” ± 1046 mdpl)
Menyusuri sungai waifuino
Piliana
Pada awal pendakian dari desa Piliana jalur pendakian sudah menanjak sama halnya ketika mendaki dari Yaputih-Piliana. jalanan khas dari jalur pendakian Binaiya ini tanahnya yang becek dan berlumpur, sulit untuk menjaga agar sepatu tetap kering. Tidak ada salahnya untuk menyediakan kaos kaki cadangan berlebih.
Banyak sungai kecil maupun besar yang dilewati sepanjang perjalanan menuju sungai Yahe. Setelah melewati jalan setapak yang berlumpur, pendakian berlanjut dengan menyusuri sungai waifuino (S30 15’ 52.9” N1290 32’ 13.5”) dengan aliran air yang kecil, dan banyak ditemui genangan air sebetis, selamat berbasah-basah ria :D
Setelah melewati beberapa tanjakan pada punggungan perbukitan, jalanan mulai menurun, suara percikan air akan makin terdengar jelas. Pertanda sudah mendekati sungai Yahe atas (S30 15’ 17.7” E1290 31’ 47.5” ± 515 mdpl). Sungai yahe atas yang besar dengan susunan bebatuan yang besar juga, biasanya dijadikan tempat makan siang sebelum melanjutkan pendakian ke camp Ai moto. Dengan keadaan dan kondisi normal, sungai Yahe atas biasa ditempuh dalam waktu 3 jam dari Piliana.
Sungai Yahe
Lalat penghisap darah
sishi
Sepanjang perjalanan PIliana-sunga Yahe atas anda akan sering dikerumuni lalat penghisap darah. Sebaiknya berhati-hati dengan binatang satu ini. warga sekitar menyebutnya ‘sishi’. Bentuknya mirip dengan lalat berukuran besar pada umumnya, hanya saja matanya bewarna biru indah. Tapi Gigitannya cukup bisa menyebabkan kulit anda membengkak disertai  demam, serta insomnia dan rasa kantuk pada siang hari.
            Tidak jauh Selepas sungai Yahe atas anda akan dapati sungai sedang dengan aliran yang deras, karena aliran airnya yang deras dan dalam (satu lutut orang dewasa, jika banjir mungkin bisa lebih) sebaiknya berhati-hati ketika melewati sungai ini. jalur pendakian akan semakin menanjak dan terus menanjak hingga nanti puncak Binaiya. Fisik yang kurang fit karena pesta tadi malam menjadikan perjalanan terasa slowdown. Mata merah, kepala pusing, jalan terasa berat. Sesampainya di lukuamano (2,5 jam perjalanan dari sungai Yahe atas) bisa kita dapati sebuah bangunan dari kayu yang biasa dipakai pemburu bermalam. walaupun jarak camp Ai moto  hanya 30 menit dari sini, tapi Kepala sudah terasa berat. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Lukuamano.
Camp lukuamano
            Malam pertama di hutan Binaiya, terang mulai tenggelam, berganti cahaya remang api unggun menghangatkan suasana membius semua orang terlelap dalam lamunan ketika memandanginya. Menikmati segelas kopi panas di samping api unggun, momen yang paling romantis versi saya. Hahahaha. , inilah saat yang  ditunggu-tunggu. Selepas Piliana, Otak ini terus berputar mencari cara agar bisa mendaki solo ke puncak Binaiya dengan tetap menghargai warga sekitar.
            Disela hangatnya api unggun dengan tenang maksud hati disampaikan dengan cara yang berbeda, agar mereka tidak tersinggung.
+ “Dag pernah naik gunung dengan cara berbeda pak??”
- “Berbeda gimana mas??”
+ “ Saya punya permainan biar lebih asik naik gunungnya”
- “ ???? ”
+ “Bapak harus bisa temukan saya dengan petunjuk yang saya tinggalkan, jadi nanti selepas Ai moto bapak saya tinggal satu malam di sana. Biar saya sendiri teruskan perjalanan. Bapak lanjut perjalanan lusa saja dari Ai moto dengan mengikuti jejak saya. Sepanjang jalur yang sudah saya lewati akan saya beri tanda pita merah pada batang pohon atau bebatuan, bapak tinggal ikuti kemana arah pita merah itu”
            Allhamdulillah, walaupun sempat berdebat lama karena mereka tetap khawatir akan keselamatan saya akhirnya mereka setuju dengan usulan itu . Lagipula dengan seperti ini, merekapun tidak perlu repot-repot membawakan ransel. Tugas mereka hanya mengikuti dari belakang dengan perbedaan waktu 1 hari dan saya akan tetap bayar full menurut aturan yang ada walaupun mereka tidak membawakan barang-barang pendakian.
Hari kedua     
Lukuamano-HIgh Camps (S30 13’ 10.5” E1290 30’ 34.6” ±1919 mdpl)
Tebing sebelum
camp Ai Moto
            030212, bangun ketika hari masih gelap, dan kopi adalah sesuatu yang pasti untuk setiap pagi. Badan sudah mulai terasa ringan, siap meneruskan perjalanan. Setelah habis 1 gelas kopi, tanpa berlama-lama bergegas meninggalkan camp Lukuamano menuju Ai moto (S30 14’ 22.9” E1290 30’ 43.3” 1173 mdpl) setengah jam saja perjalanan ditempuh sudah bisa kita dapati sungai dengan aliran kecil, inilah camp Ai moto. Sungai yang ada d Ai moto adalah sungai terakhir, selepas ini kita tak bisa lagi temukan sungai. Adapun mata air hanya berupa kolam yang tidak mengalir. Kolam temporary ini ada di highcamp, sebelum lembah islali, nasapeha, dan terakhir di puncak
Tempat berpisah dengan para potter
Camp Ai Moto
Sumber air di sungai
Camp Ai Moto
 sepanjang malam bahkan ketika makan pagi di Ai moto, para potter terus berikan masukan dan deskripsi sedetail mungkin tentang jalur yang akan saya lewati. Setelah makan pagi di Camp Ai moto perjalanan dilanjut tanpa ditemani potter. Para potter stay dulu untuk 1 hari di Camp Ai moto. Baru besoknya mereka akan melanjutkan perjalanan dengan membaca jejak yang saya tinggalkan. Akhirnya pendakian solo ke puncak Binaiya memungkinkan untuk dilakukan.
Karena Binaiya ini termasuk kedalam gunung yang jarang didaki maka untuk jalurnya sama sekali tidak terurus. Tak ada tanda-tanda pos atau petunjuk sepanjang jalur. Hanya jejak potter yang ada berupa bekas sabetan parang pada pohon atau beberapa ranting pohon kecil yang sengaja dipatahkan.
Satu persatu tanda pita merah diikatkan pada pohon yang dilewati, agar para potter bisa menemukan posisi saya. Sedang jalan yang ada terasa samar sekali. data awal yang saya punya tentang titik kordinat puncak Binaiya pada GPS sedikit membantu navigasi. 
             Secara waktu, mendaki Binaiya melalui jalur selatan ini lebih singkat. Namun denngan medan yang lebih terjal. Sebelum anda dapati puncak Binaiya, terlebih dahulu anda mesti naik turun beberapa puncak, puncak Aiulanusalai, puncak teleuna, puncak Manukupa, yang terberat adalah puncak Bintang.
            Selepas Ai Moto, medan masih mendaki dan akan terus terjal hingga puncak Aiulanusalai (S3 14 03.5 E1290 30’ 33.6”) dan puncak Teleuna. Di puncak teleuna, pepohonan khas puncak sudah bisa dinikmati. Kiri-kanan jalan dihiasi pohon kantong semar lumut yang tebal, dan pada sebagian jalur berbatu besar.
            Mendaki bulan desember memang bukan ide baik. Karena pada bulan ini curah hujan cukup tinggi. Terbukti dengan cuaca di laut sepanjang perjalanan yang ekstream. kabar baiknya, ketika mendapati puncak teleuna badai datang. Tak mungkin lagi meneruskan perjalanan dengan hujan yang deras, angin kencang, serta kabut tebal. Terpaksa mendirikan bivak di puncak teleuna, berlindung diantara bebatuan besar.
Kabut Masih Pekat
Setelah badai di puncak Teleuna
            Hampir 3 jam tertahan badai di puncak Teleuna, rencana awal bermalam di lembah Islali sepertinya sudah tidak memungkinkan lagi. Hari mendekati gelap ketika menuruni puncak Teleuna. Tidak jauh dari turunan puncak, ada tanah lapang, tempat yang biasa dijadikan para pemburu bermalam. Tidak jauh dari tempat mendirikan tenda terdapat kolam air temporary seperti yang ada nanti di camp Nasapeha. Tendapun berdiri di tempat yang bernama Highcamp.
Hari ke tiga
HighCamp-Nasapeha (S30 11’ 28.7” E1290 29’ 28.1” ±2573 mdpl)
            040112 pagi yang masih sama, cuaca kurang bersahabat. mendung berkabut tebal, tapi perjalanan masih tetap harus berlanjut. Medan masih tetap sama juga, terjal. menapaki punggungan manukupa sampai puncak manukupa (S30 12’ 48.1” E1290 30’ 18.9” ±2281 mdpl).
Medan tersulit
Punggungan G. Bintang
dilihat dari P. Manukupa
Puncak Manukupa
Kolam Air sebelum lembah
Islali
Tempat yang lapang untuk mendirikan
tenda di lembah Islali
            Setelah berjalan 2 jam dari highcamps anda sudah bisa dapati puncak manukupa, dari sini juga sudah bisa terlihat punggungan Gunung bintang yang akan dilewati nanti. Ambil jalur kiri dari punggungan Manukupa turun ke lembah islali (S30 12’ 32.6” E1290 30’ 08.1” ±2162 mdpl), satu jam dari puncak Manukupa. Tidak jauh dari camps islali, tepatnya sebelum didapat tanah datar untuk camp. Anda akan menemukan kolam musiman. Tetapi untuk berjaga-jaga sebaiknya air sudah di stock dari Camp Ai Moto untuk 1 malam 2 hari.
            Setelah camp islali perjalanan kembali menanjak, dan inilah medan terberat sepanjang perjalanan menuju puncak Binaiya. Mendaki punggungan Gunung Bintang yang terjal serta berbatu. Setiap langkah adalah pertaruhan dan harus anda perhatikan dengan baik. Karena karakter bebatuan di gunung Bintang ini rapuh tapi tajam.
            Perlu waktu sekitar 3-4 jam untuk bisa sampai di puncak Bintang ini (S30 11’ 49.2” E1290 29’ 36.2” ±2670 mdpl). Anda bisa bernafas lega setelah berada di puncak Bintang. Karena track berikutnya hanya menuruni punggungan Gunung Bintang menuju Nasapeha (S3 110 28.7 E1290 29’ 28.1” ±2573) selama 1 jam perjalanan dari puncak bintang.
            Nasapeha adalah camp terakhir, jarak puncak Binaiya dari sini hanya 2 jam perjalanan. Terdapat kolam air temporari yang berwarna cokelat di samping tanah datar untuk mendirikan tenda. Jika waktu masih memungkinkan anda bisa langsung memulai summits attack dari sini. Hanya saja, ketika sampai di Nasapeha kabut sudah begitu tebal, Hujan mungkin turun sebentar lagi.
            Ketika asik sendiri mendirikan tenda, dari jauh terdengar teriakan orang bersahutan. Samar-samar suaranya seperti tidak asing di telinga. Haha, ternyata dua potter saya menyalip dan bisa menemukan saya. Kupikir tidak akan secepat ini mereka temukan saya. Berarti hari ini mereka jalan cepat dari Camp Ai Moto hingga Nasapeha hanya butuh waktu satu hari. Berbeda denganku, butuh waktu dua hari untuk bisa sampai Nasapeha,  mungkin karena kemarin sempat tertahan badai di puncak Teleuna hingga harus bermalam di Highcamp.
Nasapeha
            Dari wajah mereka, saya bisa baca raut senang bercampur heran. Ceria sekali mereka temukan saya, tak henti-hentinya mereka bertanya kenapa saya akhirnya bisa juga sampai di Nasapeha. Hal itu yang buat mereka heran, karena mereka tahu saya belum pernah ke Binaiya sebelumnya, tidak tahu jalan, tapi bisa sampai seorang diri, tanpa didampingi mereka. Walaupun pada beberapa jejak yang saya tinggalkan untuk mereka sedikit keluar dari jalur yang sudah ada, tetapi pada akhirnya sampai juga.
            Malam kembali hangat karena kehadiran dua teman kita ini. segelas kopi dan api unggun menjadi pelengkap sempurna malam itu. Disela canda yang ada kembali saya izin untuk naik sendiri sampai puncak Binaiya. Dan mereka tinggal menunggu saja di Camp Nasapeha. Nampaknya setelah melihat keberhasilan saya mencapai Nasapeha, buat mereka bisa dengan mudah mengijinkan mendaki solo sampai puncak, mantap. Malam ini tidur jangan sampai terlalu larut, karena esok jam 4 pagi sudah harus siap summits attack, semoga saja dapat momen bagus saat sunrise di puncak.
Hari ke empat
Summits Attack, Nasapeha-P. Binaiya (S30 10’ 24.8” E1290 27’ 09.2” ± 3027 mdpl)           
050112, Lagu ‘hadapi saja’nya Iwan Fals dari alarm HP memecah malam, cukup mengakhiri tidurku yang lelap. Kulihat jam sudah jam 03.00 wit. Dengan sedikit malas, mulai nyalakan trangia panaskan air untuk kopi. Dan sepiring nasi goreng habang ala Kalimantan cukup untuk  mengisi energi sampai puncak. sayang, ketika menikmati nasi goreng hujan mulai turun deras.
            Nasi goreng sudah habis dari tadi, kopi sudah dingin, roko entah yang berapa batang, hujan belum reda juga. 1 jam, 2 jam berlalu, hingga terang, hujan masih saja berlanjut. Perjalanan kali ini benar-benar terhadang cuaca.
            Pukul 09.00 wit, hujan mulai reda. Hilang sudah kesempatan menangkap momen sunrise di puncak. Binaiya masih berselimut kabut tebal saat berjalan sendiri menapaki punggungan menuju puncak tertinggi di Molucas ini.
Wayfuku
Wayfuku 2
            Beruntung ketika  memasuki puncak dua Binaiya sebagian kabut sudah menghilang, matahari sempat terlihat untuk beberapa saat. Puncak Binaiya besar (S30 10’ 58.1” E1290 28’ 43.4” ± 2970 mdpl) bisa ditempuh dalam waktu 2 jam dari Nasapeha. Disini terdapat 3 kolam genangan air yang jernih dan warga sekitar menyebutnya Way Fuku 2. Satu punggungan ke depan (15 menit perjalanan) adalah puncak Binaiya 2 (S30 10’ 46.5” E1290 28’ 24.7” ± 2990 mdpl), di sini terdapat sebuah kolam genangan air yang bernama Way Fuku. 15 menit mendaki dari puncak Binaiya 2 anda sudah bisa dapatkan puncak Binaiya Sejati (S30 10’ 24.8” E1290 27’ 09.2” ± 3027 mdpl).
            Puncak Binaiya nampak seperti hamparan padang rumput dan syurga bagi rusa. Jika beruntung anda bisa melhat gerombolan rusa 10-20 ekor berlarian di padang rumput. Landscape kota Tehoru di selatan, G Bintang, laut seram dan desa kenikeh bisa anda nikmati jika kabut tdak terlalu tebal.
Karena tadi pagi sempat terhalang hujan sehingga memulai summits ini pada jam 9 pagi, sudah terlalu siang. Otomatis tiba di puncak dan kembali ke Camp Nasapehapun akan terlalu siang juga.
View di Puncak
Nasapeha-Lembah Islali (S30 12’ 32.6” E1290 30’ 08.1” ±2162 mdpl)
Tanda XPDC
di Puncak Binaiya
Puncak Binaiya
            Tidak bisa berlama-lama berada di puncak. setelah mendokumentasikan seperlunya. Segera perjalanan berlanjut kembali ke Nasapeha. Tempat dimana para potter sudah menunggu untuk melanjutkan perjalanan ke lembah Islali. Idealnya, setelah summits, perjalanan dilanjutkan kembali Camp Ai Moto karena di sana ada sumber air berupa sungai yang alirannya kecil, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
            Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 wit ketika kembali ke Camp Nasapeha. Para potter terlihat sedang memasak papeda (makanan khas Maluku yang terbuat dari tepung sagu) untuk makan siang. Senang rasanya setelah lelah mendaki tak perlu lagi memikirkan makanan dan packing. Datang ke camp, tenda dan barang-barang sudah di packing rapi para potter. Makananpun sudah tersaji. Menu makan siang hari ini. papeda campur ikan asin dan taburan abon sapi. Wiuh mantap :D
            Istirahat makan siang sudah cukup, perjalanan kembali berlanjut dengan santai, karena target puncak Binaiya sudah tercapai. Sekitar pukul 5 sore, setelah berjalan 3,5 jam dari Nasapeha akhirnya tiba di lembah islali. Cahaya matahari sudah menguning memasuki senja, tak mungkin lagi bisa meneruskan perjalanan. Tepat waktu sampai di Lembah Islali.Untuk malam ke empat kami istirahat di Lembah Islali.
Hari ke lima
Lembah Islali-Piliana
            060212, Mentari masih samar cahayanya ketika trangia mulai dinyalakan untuk sarapan pagi. Hari ini memang sudah direncanakan untuk mulai berjalan sepagi mungkin. mengingat target berikutnya adalah desa Piliana. jarak antara lembah islali dengan desa Piliana lumayan jauh, Secara perhitungan normal  jika kita memulai perjalanan dari piliana maka dibutuhkan waktu 2 hari untuk bisa sampai di Lembah Islali.
            Dengan asumsi waktu tempuh 2 hari jika naik, mungkin kalo untuk turun bisa ditempuh dalam I hari saja. Perkiraan kami ternyata tepat. Pada awal perjalanan terasa begitu cepat, berbeda sekali ketika naik, ngesot mania gan. Hahahaha
Jenis paku hutan yang bisa dimakan
Kuncupnya yang masih muda
bisa dmakan langsung
seperti lalab
            Target makan siang (10.30 wit) di Camp Ai Moto terkejar, hari terakhir bisa ditandai dengan logistik  yang mulai menipis, hadeuh. Yang bersisa hanya mie instan saja. Beruntung di Camp Ai Moto terdapat banyak paku hutan. Sangat cocok untuk tambahan mie instan. Rasanya seperti bayam atau kangkung, mantap.
            Langkah makin cepat ketika meninggalkan Camp Ai Moto. Hari masih siang ketika masuk Sungai Yahe Atas, pukul 13.00. kamipun beristirahat lama di Yahe, bahkan sempat mandi di sana. Setelah badan terasa segar dan berbeda perjalanan kembali berlanjut menaiki punggungan bukit lalu turun menyusuri sungai waifuino. Setelah menyusuri sungai waifuino, medan berganti dengan suasana ladang sagu dan cengkeh. Pertanda desa Piliana sudah dekat.
            Mendekati senja, sekitar pukul 16.00 wit kami tiba di desa Piliana. disambut dengan ceria oleh Ibu dan Bapak Raja (Kepala Desa). Aneh tapi nyata, menurut pengakuan  mereka, mereka dan warga Piliana sudah tahu kalau kami akan tiba hari di desa. Ini dipertandakan dengan kemunculan petir dari arah G Binaiya. Selalu ada suara petir ketika para pendaki turun dari Binaiya, begitu kata mereka.
            Sesampainya di Piliana perjalanan tidak dilanjutkan ke yaputih untuk kemudian ke masohi. Lebih memilih untuk tinggal dulu satu malam di rumah Bapak Raja. Allhamdulillah pendakian solo ke puncak Binaiya bisa tercapai walau dengan berbagai kendala.
             paginya (070112) setelah mandi di kolam jodoh Ninipala (baca) perjalanan dilanjut ke Yaputih, Tehoru, sampai Masohi. Karena bermasalah dengan Izin ketika naik Binaiya. Mengharuskan melapor diri sepulangnya dari Binaiya. Lagi-lagi kantor pengurusan izin tutup. Akhirnya saya yang waktu itu kebetulan ditemani Bapak Raja mendatangi mess tempat tinggal para pegawai kantor TN Manusela.
            Ternyata, para pegawai yang mengurus izin ini berasal dari Jawa Barat. Sebentar saja, kamipun akrab dan mempermudah permasalahan Izin tersebut. Bahkan sempat ditahan dulu untuk bermalam bersama mereka. Tidak punya alasan untuk menolak. Satu hari bermalam di masohi. Malam berikutnya berpindah numpang hidup  di rumah seorang teman di daerah Lorong Cinta, masih dalam kawasan Masohi.
            Barulah pada tanggal 100112 perjalanan berlanjut kembali ke pelabuhan Amahai menyebrang ke Tulehu dengan kapal cepat, disambung dengan ojeg motor (Rp 50.000) sampai bandara Pattimura. Take off dengan tujuan Makassar, Untuk mengejar target berikutnya, Pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario, Puncak Tertinggi di P. Sulawesi. to be continue, read this

Pendakian solo estafet Binaiya-Rante Mario, "Rante Mario".




Rute sederhana Binaiya dan tips.
Transportasi dan akomodasi sampai di Piliana.
Rute
Transport
Ongkos
Waktu tempuh
Bandara-Pelabuhan Tulehu
Sewa Mobil
Rp 150.000
± 1 jam
Pel. Tulehu-Pel. Amahai *
Kapal Cepat
Rp 96.000
± 2 jam
Pel. Amahai-Terminal Masohi
Angkot
Rp 10.000
± 30 menit
Terminal Masohi-Tehoru
Mobil
Rp 50.000
± 3-4 jam
Tehoru-Yaputih*
Ketinting
Rp 20.000
± 1 jam
Yaputih-Piliana*
Mendaki
-
± 3 jam


 
Keterangan :
Kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu-Pelabuhan Masohi hanya ada pada jam-jam tertentu, untuk itu sebaiknya cari maskapai penerbangan yang jadwal landingnya sinkron dengan jadwal kapan cepat.  Kapal cepat dari Tulehu-Amahai berangkat pada jam 09.00 wit dan 16.00 wit.
Untuk perizinan pendakian bisa di urus di kantor Taman Nasional Manusela Yang berada di Masohi. Sesampainya Di terminal Masohi, Anda bisa singgah terlebih dahulu ke kantor TN Manusela untuk mengurus izin. Bisa minta tukang ojeg di terminal untuk mengantar sampai TN Manusela dengan tarif Rp 10.000.
Alamat kantor Masohi
Jalan Kelang No. 1 Masohi
Tel/fax             : (0914)22164
Kode pos          : 09, 97511
Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku
Website           : www.tnmanusela-dephut.org
Kantor yang berada di Masohi hanya buka dari hari senin sampai jumat. Hari jumat biasanya hanya setengah hari. Jika kantor yang berada di masohi tutup. Izin bisa diurus di kantor yang berada di tehoru. Ketika naik mobil ke tehoru, minta sang supir untuk berhenti dulu di kantor Manusela/Pariwisata yang berada dekat dengan pasar Lolo.
Alternatif lain jika kantor masohi tutup, Anda juga bisa mendatangi mess pegawai kantor yang berada di jalan protokol di samping kanan lapangan bulu tangkis.
Dari Yaputih menuju Piliana perjalanan dilanjutkan dengan mendaki. Bagi anda yang tidak mengenal jalur Yaputih-Piliana bisa mencari guide di Yaputih. Atau saran dari saya sebaiknya anda minta pendapat dari pihak kantor masohi untuk masalah guide. Tarif guide sudah disepakati 100 ribu/ hari.
Dari Piliana hingga Puncak Binaiya banyak pilihan mengenai lamanya pendakian dan Alternative di mana saja kita bisa mendirikan tenda.
Rute normal, 5 hari 4 malam :
Hari pertama, Start dari Piliana pagi hari, mendaki sampai Camp Ai moto. Mendirikan Tenda di Camp Ai Moto. Di sini kita anggap sumber air terakhir. Dari sini sebaiknya membawa stock air untuk 2 hari 1 malam.
Hari Kedua, Camp Ai Moto-Lembah Islali. Setengah jam perjalanan Sebelum sampai di Lembah Islali atau ketika habis turunan Manukupa Anda bisa menemukan kolam genangan air temporary yang ada hanya pada musim basah. Karena sifatnya yang sementara, bisa saja kolam itu kering. Jadi untuk berjaga-jaga tidak ada salahnya membawa stock air dari Camp Ai Moto.
Hari ketiga, Lembah Islali-Nasapeha. Sesampainya di Nasapeha barang ditinggal langsung summits attack. Di Nasapeha ada genangan kolam air namun sayang airnya bewarna cokelat. Sebaiknya dimasak dulu sebelum diminum.
Hari keempat, Nasapeha-Camp Ai moto. Sebaiknya berjalan sepagi mungkin dari Nasapeha.
Hari kelima, Camp Ai moto-Pulang. jika anda berjalan cepat, tengah hari sudah sampai di Piliana. sesampainya di piliana terserah anda apakah akan tinggal di Piliana terlebih dahulu baru kemudian besok paginya turun ke yaputih dilanjut ke Tehoru terus sampai ambon. Atau mau langsung turun hari itu juga ke yaputih. Tetapi perjalanan mungkin hanya akan sampai di Masohi. Anda bisa bermalam dulu di Masohi karena jadwal kapal cepat sudah tak mungkin lagi bisa dikejar kecuali besok pagi.
Rute super cepat Ultra Light Hiking, 2 hari 1 malam.
            Diperuntukan bagi mereka yang mempunyai stamina sangat bagus. Disarankan juga hanya membawa barang seperlunya saja. Style Ultra Light Hiking membantu anda agar bisa berjalan cepat dengan mengurangi beban bawaan. Sudah pernah dilakukan sebelumnya dan sukses sampai puncak binaiya, oleh pendaki dari Belanda.
Hari pertama, Start dari Piliana ketika masih shubuh mendaki sampai Nasapeha. Dirikan tenda di Nasapeha.
Hari kedua, Jam 03.00 wit summits Attack dari Nasapeha berburu sun rise di puncak kemudian turun sampai Piliana. anda mungkin akan kemalaman tiba di Piliana.
            Bagi yang memerlukan kordinat GPS dengan lengkap bisa kirim ke email saya. Ada sekitar 1000 lebih kordinat GPS untuk jalur pendakian Binaiya. Jika kordinat tersebut dihubungkan maka akan membentuk jalur jalan setapak dari Yaputih-Puncak Binaiya. Dari awal pendakian  log jejak pada GPS memang saya nyalakan.
            Tapi saya pikir anda tidak begitu memerlukan kordinat GPS. Karena anda sudah ditemani potter dari awal pendakian. Namun jika anda memerlukan silahkan bisa email ke Rikikp@yahoo.co.id
Semoga bermanfaat