Mengenai Saya

Foto saya
'im not an adventurer by choice but by fate'

Rabu, 28 Desember 2011

Dilempar Badai di Perairan Seram Terdampar di Temi


Sunset di dusun Temi


            Pada awal pelayaran menuju ambon terasa sangat menyenangkan. Pasir putih, laut yang jernih pepohonan di antara perbukitan yang saling menyusul menjadi teman sepanjang jalan. Terlebih kapal yang saya tumpangi, bukan kapal penumpang pada umumnya. Hanya kapal kayu kecil pengankut kopra, tentunya kapal ini akan banyak singgah di desa-desa kecil sepanjang pesisir pantai.
            Setelah muat barang di kampung Oci dan bermalam di Fluk (S10 41’ 15.2” E1270 45’ 28.0” ± 0 mdpl, pulau obi bagian selatan). rabu sore (281211) kapal mulai berlayar meninggalkan gugusan pulau Obi menuju laut lepas Seram. Angin barat bulan desember yang terasa semakin kuat akhirnya sampai pada puncaknya. Menjelang malam, setelah berada di laut lepas, langit menghitam, badai menghantam kapal kami.
            Jangankan kapal kayu kecil seperti ini, kapal besi besarpun sudah banyak yang tenggelam di perairan ini. dan untuk pertama kali dalam hidup merasakan betul bagaimana lautan menampar kapal yang saya tumpangi.
            Longboat kecil di kapal jadi korban keganasan gelombang malam itu, hancur berkeping-keping di hantam gelombang badai. Walaupun dalam lagu sudah jelas nenek moyangku seorang pelaut. Tapi saya pribadi belum bisa beradaptasi  baik  dengan gelombang laut. Ada yang salah dengan lagu itu. Dari awal gelombang mengganas kepala sudah terasa berat, mulai mual, untung saja tidak sampai muntah. Coba untuk tertidur diantara teriakan ABK kapal. Yang terakhir saya ingat hanya wajah kapten yang cemas melihat jauh ke lautan lepas.
Setelah itu sudah tidak bisa mengingat apa-apa lagi.. terlelap….
Terdengar samar dari kejauhan seperti ada orang yang memanggil. Makin lama makin jelas… ternyata suara ABK yang membangunkan dan menawarkan segelas kopi di pagi hari, sampai terbawa ke mimpi… hahahaha. Allhamdulillah, badai tadi malam sudah berlalu. Sebentar lagi mentari bersinar terang..
            Terbangun dengan kepala yang masih terasa berat, untung saja segelas kopi sudah tersaji. Mata ini tertuju pada perbukitan yang jauh di depan, Nampak ada desa di sana. Itukah ambon???


            ‘ambon masih jauh mas, itu kampung temi, kita istirahat dulu di sana satu malam, malam tadi badainya kuat, ABK tarada yang istirahat. Jadi kita istirahat dulu disana..’ kata-kata ABK ini memaksaku menelan ludah, hadeuh kupkir sudah ambon.
            291211, kapal yang saya tumpangi terdampar di seram bagian barat di sebuah dusun kecil bernama Temi. Seluruh ABK turun dari kapal beristirahat di rumah warga Temi yang sudah mereka kenal. Sedang saya kebingungan sendiri di tanah orang. Nama kampungnya saja baru saya dengar tadi. Tak ada orang yang saya kenal di sini. entah bermalam dimana malam ini.
            Suara seorang bapa membuyarkan lamunan, dengan ramah dia mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya jika ingin beristirahat di rumahnya yang sederhana sampai kapal bisa berlayar kembali. Persaudaraan di timur menyelamatkan saya entah untuk ke berapa kali.
            Di rumah pak laseri (S30 18’ 11.9” E1270 55’ 28.1” ± 0 mdpl), warga temi dari suku buton ini saya menumpang hidup selama terdampar di Temi.  Itulah orang timur yang saya kenal, sosialnya masih sangat tinggi. Bukankah terdengar aneh ketika saya terdampar di suatu tempat yang entah dimana itu, semua wajah terlihat asing, tak ada seorangpun yang dikenal, dan saya sendiri hadapi itu semua. Untung saja ini di timur, jadi jangan khawatir, pasti ada saja orang yang akan menolongmu terlebih bukankah Tuhan itu ada dimana-mana J saya percaya…
            301211, sudah menjadi kebiasaan ketika menghabiskan kopi di pantai,  tak bisa saja jika harus memandang jauh ke cakrawala laut tanpa membiarkan angan ini meracau. matahari terasa terik pagi itu, nampaknya hari ini cuaca sedikit bersahabat. dari arah jauh Nampak orang berbondong-bondong mengangkut karung yang sudah pasti kopra dalamnya. Para ABK sudah mulai sibuk muat barang ke kapal. Pertanda baik, kapal akan berangkat. Segera setelah pamitan dengan pak laseri kembali langkah ini terayun menuju ambon 5-6 jam dari sini.
            Badai pasti berlalu J setelah 4 hari berada di atas kapal. Efek dari mabuk laut sudah mulai hilang, mulai terbiasa dengan gelombang setelah dihantam badai semalam. Sisa perjalanan terasa makin menyenangkan dengan suguhan gugusan tebing yang masih perawan. Sepertinya gugusan tebing sepanjang pantai seram barat ini cocok untuk pembuatan jalur baru panjat tebing. direkomendaskan bagi mereka yang ingin membuat jalur panjat tebing. Tingkat kesulitannya variatif, mulai dari lintasan vertical, overhang, hingga roof. Bahkan dari kejauhan sudah bisa dilihat beberapa goa DAS di sepanjang gugusan tebing ini.
            Menjelang sore, akhirnya kapal masuk kedalam hole yang besar, inilah ambon :D lautnya teduh tertutup hole yang melindungi ambon dari ganasnya gelombang laut lepas.
Sunset di Ambon
Suasana kumuh di pelabuhan laskar
anak-anak nampak riang mandi di laut yang kotor
"INDONESIA"
            Seiring langit ambon yang menjingga, menjelang sunset kapal sandar di pelabuhan laskar (S30 40’ 46.0” E1280 11’ 30.6” ± 0 mdpl). Sebuah pelabuhan kecil di Batu merah, terlihat kumuh dan kotor karena kegiatan pasar tradisional di sekitar pelabuhan.
            Ambon hanya sebuah awal dari rangkaian awal sebuah perjalanan panjang menuju puncak binaiya. Puncak tertinggi di gugusan kep Maluku (baik Maluku Tengah maupun Maluku Utara).
            Dan bukanlah sebuah perjalanan jika tanpa hambatan, setelah badai, waktu yang molor di perjalanan (5 hari perjalanan dari P. Obi baru sampai Ambon). Sampai di ambonpun perjalanan masih saja molor. Chek point berikutnya adalah menuju pelabuhan Tulehu-Amahai (P. Seram). Karena terlalu sore sandar di ambon sehingga tidak memungkinkan lagi untuk mengejar jadwal kapal cepat di pelabuhan Tulehu.

Pelabuhan Tulehu
Terpaksa bermalam dulu di kota ambon, besok pagi (311211) baru dilanjut dengan angkot menuju pelabuhan Tulehu. Menggunakan kapal cepat dengan ongkos Rp. 96.000,00 menuju pelabuhan Amahai selama 2 jam. Dari pelabuhan amahai dilanjut dengan angkot menuju terminal masohi.
            Tidak jauh dari terminal Masohi (bisa dilanjut dengan ojeg pp) ada kantor TN Masohi, izin pendakian bisa di urus dari sini. Hanya sayang waktu ketika akan mengurus izin kantornya tutup sehingga perjalanan langsung dilanjutkan menuju tehoru. Dengan menggunakan mobil jurusan masohi-tehoru (Rp. 50.000,00). Dari tehoru naik ketinting / long boat, (Rp 50.000,00) menyebrang ke desa yaputih (S30 17’ 54.0” E1290 31’ 33.9” ± 0 mdpl).
Tehoru-Yaputih
naik Ketinting
Desa Yaputih
            Desa yaputih ini berada di pesisir pantai seram selatan menjadikannya titik awal pendakian Binaiya untuk jalur selatan. karena terletak di pesisir, kita anggap inilah titk 0 mdpl start awal untuk pendakian Binaiya.
            Next destination sekaligus menjadi basecamp terakhir untuk pendakian Binaiya adalah desa Piliana. Jalur dari Yaputih menuju desa Piliana sudah mendaki dengan medan yang lumayan variatif, Menanjak, menyebrangi sungai, berlumpur.
Malam di Piliana
            Sayang sekali, perjalanan dari Yaputih menuju Piliana ditempuh pada malam hari sehingga kurang bisa menikmati panorama alam sepanjang jalan. Sampai Piliana sudah larut malam. Tapi bayangan desa yang sunyi senyap tak nampak di sini. Rupanya warga sedang merayakan pergantian tahun. Terlalu terbawa perjalanan kadang buat kita lupa waktu. Saya baru ingat kalo ini tahun baru. Selama berada di piliana, anda bisa menginap di rumah bapak Raja (Kepala desa).
            sesampainya di rumah bapak Raja (S30 16’ 12.0” E1290 32’ 54.2” ± 425 mdpl), Kopi panas sudah tersaji. sayang bapak lagi sibuk dengan rangkaian acara tahun baru. Jadi hanya sebentar saja bisa menemani minum kopi. Gelapnya malam, rimbunnya hutan dan Segelas kopi panas disela kemeriahan warga menyambut pergantian tahun, sungguh paduan yang sempurna saat itu. Walau tanpa penerangan listrik dari PLN tak membuat surut semangat warga dalam merayakan tahun baru.
             
            tidak menyangka juga akan merayakan tahun baru di tempat yang pertama kali saya injak dengan orang-orang yang pertama kali juga saya kenal. Tahun baru di tanah orang tanpa seorangpun mengenalmu, terdengar aneh. Hahaha. Tapi dari sini saya menemukan sesuatu yang berbeda dari apa yang biasa mereka dapatkan.
            Sayang semua itu tak bisa saya nikmati lama, karena lelahnya perjalanan untuk bisa sampai di sini. Memaksa tubuh ini untuk merebahkan diri di atas kasur. Terlelap untuk kemudian terbangun esok pagi dengan banyak kejutan yang diberikan warga Piliana. to be continue to :

Perayaan Tahun Baru di Piliana Cakalele dan Legenda Kolam Ninipala









Senin, 26 Desember 2011

Kopi pagi rasa pyton di soligi





Sunset di Soligi

            Entah berapa banyak rencana yang disusun untuk pendakian solo estafet binaiya-rantemario ini. Hingga akhirnya dipilihlah rute yang tidak seperti biasanya, sekedar ingin merasakan perjalanan ‘ala orang timur’. Rute yang satu ini agak menantang, karena perjalanan menuju ambon akan ditempuh dengan menumpang kapal kayu kecil pengangkut kopra. Menurut info sebelumnya dari beberapa rekan, di soligi ini terdapat banyak kapal kayu kecil  yang mengangkut kopra untuk di jual ke ambon.
Panji, its begin...
            Tepat pukul 12.00 wit, 261211 petualangan dimulai dengan menumpang long boat eksplorasi menuju kampung soligi. Sebenarnya kampung soligi ini terletak masih di pulau obi, hanya berjarak 3-4 km (pengukuran dengan gps). Tapi, karena tidak adanya akses jalan darat sehingga harus ditempuh dengan penyebrangan laut.
              Setelah disapa sedikit gelombang tinggi di bulan desember, 40 menit saja sudah sampai di sebuah desa sederhana yang mereka sebut soligi. setelah turun dari longboat, style seorang diri dengan membawa ransel berukuran besar, segera saja menyita perhatian penduduk sekitar pantai. Baru beberapa menit saja menginjakan kaki di pelabuhan, sudah dikerumuni banyak orang. Allhamdullah, tak perlu cari orang untuk bertanya. Inipun sudah banyak orang yang bertanya.. hahahaa
-‘Mo pi mana mas (mau pergi kemana mas)???’
+kita cari kita pe temang, depe nama pak roby, taher jouronga pe saudara dari kawasi, kenalkah  (saya cari teman, pak roby namanya, saudara dari taher jouronga dari kawasi, kenal???)??
            Pak roby ini, saudara dari teman di tempat kerja. Dia menyarankan untuk singgah di rumahnya pak roby, biar nanti pak roby bisa bantu carikan informasi kapal yang akan berangkat ke ambon. Saya sendiri tidak mengenal langsung pak roby ini, belum pernah bertemu juga sebelumnya. Itu yang menjadikan sulitnya mencari pak roby. saya sendiri tidak mengenal pak robby … hehehehe
            Untungnya dari beberapa warga yang berkerumun, ada diantaranya saudara dari pak roby yang mungkin saya maksud. beramai-ramai sayapun diantar ke rumah pak roby. Dari kejauhan Nampak lelaki tua berumur 40-50 tahun tersenyum. Dari wajahnya, saya pikir dia dari ambon. Dan ternyata benar inilah pak roby saudara temanku itu.
            di rumah (S10 39’ 28.7” E1270 25’ 24.9” ±0 mdpl)sederhana inilah sementara saya numpang tinggal, makan, dan tidur untuk kemudian esok harinya menumpang kapal menuju ambon. Rupanya pak roby ini cukup gesit dan banyak kenalan orang kapal. Beberapa jam saja sudah dapat info keberangkatan kapal.tepat sekali rekomendasi temanku ini.. thanks brow. Hehehe
            inilah yang saya suka dan acungkan jempol dari ‘Timur’, kehidupan sosialnya. Sesuatu yang sudah lama hilang dari barat. Kalau dipikir lagi, saya tak kenal pak roby sebelumnya, hanya tahu dari seorang teman. Tapi cara mereka menjamu tamu, bahkan seseorang yang tidak dikenalnyapun, mereka anggap sudah seperti saudara sendiri. Welcome to the east…
            271211, Hujan yang turun dari semalam belum juga reda membuat malas untuk beranjak dari selimut tebal. Ironis padahal ini di pesisir pantai, karena cuaca yang menghitam akhir-akhir ini membuat suhu makin tak menentu. Teriakan bu roby menawarkan segelas kopi panas, trik yang cukup jitu untuk mengusir rasa malas di pagi ini.
            Pagi yang dingin dengan hujan yang masih berlanjut dari malam, kopi panas dan tembakau terasa pas dengan sikon seperti ini. belum juga anganku jauh memandangi gerimis di luar. Kembali, teriakan bu roby buyarkan lamunan di pagi ini.
-‘mas riki, tolong keluar sebentar, ada ular di luar…!!!’
+‘saya bu, sebentar…’
            Hadeuh… dalam hati, kenapa harus ular???? Binatang yang paling saya benci setelah pacet. Lebih baik bertemu babi hutan, daripada ular. Dengan terpaksa segera kusambar kamera dan berjalan keluar rumah. Awalnya kupikir paling hanya ular kecil saja. Ternyata ular pyton  sepanjang 3-4 meter dengan bagian perut yang agak membulat karena baru melahap satu ekor ayam milik warga. Telak, kehadiran ular ini menjadi kehebohan tontonan warga di pagi itu. Derasnya hujan tak membuat surut antusias warga untuk melihat reptile besar ini.
            Setelah cukup lama ular tersebut merangkak kesana kemari, kekhawatiran bu roby semakin menjadi ketika melihat ular tersebut merangkak masuk ke rumahnya.
‘mas riki, tolong tangkap ular itu, so mo masuk kita pe rumah..’ dengan cemas penuh harap bu roby meminta saya menangkap ular itu.
Segera saya melempar pandangan ke kerumunan warga, bertanya apa ada yang biasa tangkap ular disini?? Sial, ternyata tak ada yang biasa tangkap ular di sini.  Nampaknya sekarang warga hanya berharap saya menangkap ular itu.
Mungkin karena mereka sudah tahu saya seorang pendaki sehingga mereka pikir saya terbiasa dengan hal itu. Padahal, ular adalah hewan yang paling saya jauhi. Saya pendaki, bukan si Panji penakluk ular.. hadeuh. Dengan sangat terpaksa akhirnya memberanikan diri untuk menangkap pyton itu. Setelah 5 menit mencoba, berbasah-basah pula karena hujan, akhirnya kepala pyton sudah bisa saya genggam.
Dengan sedikit jijik, warga membantu memasukkan pyton itu kedalam karung, dan diarak beramai-ramai entah kemana… hahahaha. Yang penting tugas saya sudah kelar. Sudah siang, kapal di dermaga sudah menunggu. Inilah saatnya memulai petualangan kembali serta pamitan dengan bapak roby sekeluarga. Kopi pagi rasa pyton di soligi… pasti akan saya ingat. Saatnya mengarungi lautan ambon dan seram.
Sunset di Soligi


            to be continue to :  Dilempar Badai di Perairan Seram Terdampar di Temi