Mengenai Saya

Foto saya
'im not an adventurer by choice but by fate'

Rabu, 28 Desember 2011

Dilempar Badai di Perairan Seram Terdampar di Temi


Sunset di dusun Temi


            Pada awal pelayaran menuju ambon terasa sangat menyenangkan. Pasir putih, laut yang jernih pepohonan di antara perbukitan yang saling menyusul menjadi teman sepanjang jalan. Terlebih kapal yang saya tumpangi, bukan kapal penumpang pada umumnya. Hanya kapal kayu kecil pengankut kopra, tentunya kapal ini akan banyak singgah di desa-desa kecil sepanjang pesisir pantai.
            Setelah muat barang di kampung Oci dan bermalam di Fluk (S10 41’ 15.2” E1270 45’ 28.0” ± 0 mdpl, pulau obi bagian selatan). rabu sore (281211) kapal mulai berlayar meninggalkan gugusan pulau Obi menuju laut lepas Seram. Angin barat bulan desember yang terasa semakin kuat akhirnya sampai pada puncaknya. Menjelang malam, setelah berada di laut lepas, langit menghitam, badai menghantam kapal kami.
            Jangankan kapal kayu kecil seperti ini, kapal besi besarpun sudah banyak yang tenggelam di perairan ini. dan untuk pertama kali dalam hidup merasakan betul bagaimana lautan menampar kapal yang saya tumpangi.
            Longboat kecil di kapal jadi korban keganasan gelombang malam itu, hancur berkeping-keping di hantam gelombang badai. Walaupun dalam lagu sudah jelas nenek moyangku seorang pelaut. Tapi saya pribadi belum bisa beradaptasi  baik  dengan gelombang laut. Ada yang salah dengan lagu itu. Dari awal gelombang mengganas kepala sudah terasa berat, mulai mual, untung saja tidak sampai muntah. Coba untuk tertidur diantara teriakan ABK kapal. Yang terakhir saya ingat hanya wajah kapten yang cemas melihat jauh ke lautan lepas.
Setelah itu sudah tidak bisa mengingat apa-apa lagi.. terlelap….
Terdengar samar dari kejauhan seperti ada orang yang memanggil. Makin lama makin jelas… ternyata suara ABK yang membangunkan dan menawarkan segelas kopi di pagi hari, sampai terbawa ke mimpi… hahahaha. Allhamdulillah, badai tadi malam sudah berlalu. Sebentar lagi mentari bersinar terang..
            Terbangun dengan kepala yang masih terasa berat, untung saja segelas kopi sudah tersaji. Mata ini tertuju pada perbukitan yang jauh di depan, Nampak ada desa di sana. Itukah ambon???


            ‘ambon masih jauh mas, itu kampung temi, kita istirahat dulu di sana satu malam, malam tadi badainya kuat, ABK tarada yang istirahat. Jadi kita istirahat dulu disana..’ kata-kata ABK ini memaksaku menelan ludah, hadeuh kupkir sudah ambon.
            291211, kapal yang saya tumpangi terdampar di seram bagian barat di sebuah dusun kecil bernama Temi. Seluruh ABK turun dari kapal beristirahat di rumah warga Temi yang sudah mereka kenal. Sedang saya kebingungan sendiri di tanah orang. Nama kampungnya saja baru saya dengar tadi. Tak ada orang yang saya kenal di sini. entah bermalam dimana malam ini.
            Suara seorang bapa membuyarkan lamunan, dengan ramah dia mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya jika ingin beristirahat di rumahnya yang sederhana sampai kapal bisa berlayar kembali. Persaudaraan di timur menyelamatkan saya entah untuk ke berapa kali.
            Di rumah pak laseri (S30 18’ 11.9” E1270 55’ 28.1” ± 0 mdpl), warga temi dari suku buton ini saya menumpang hidup selama terdampar di Temi.  Itulah orang timur yang saya kenal, sosialnya masih sangat tinggi. Bukankah terdengar aneh ketika saya terdampar di suatu tempat yang entah dimana itu, semua wajah terlihat asing, tak ada seorangpun yang dikenal, dan saya sendiri hadapi itu semua. Untung saja ini di timur, jadi jangan khawatir, pasti ada saja orang yang akan menolongmu terlebih bukankah Tuhan itu ada dimana-mana J saya percaya…
            301211, sudah menjadi kebiasaan ketika menghabiskan kopi di pantai,  tak bisa saja jika harus memandang jauh ke cakrawala laut tanpa membiarkan angan ini meracau. matahari terasa terik pagi itu, nampaknya hari ini cuaca sedikit bersahabat. dari arah jauh Nampak orang berbondong-bondong mengangkut karung yang sudah pasti kopra dalamnya. Para ABK sudah mulai sibuk muat barang ke kapal. Pertanda baik, kapal akan berangkat. Segera setelah pamitan dengan pak laseri kembali langkah ini terayun menuju ambon 5-6 jam dari sini.
            Badai pasti berlalu J setelah 4 hari berada di atas kapal. Efek dari mabuk laut sudah mulai hilang, mulai terbiasa dengan gelombang setelah dihantam badai semalam. Sisa perjalanan terasa makin menyenangkan dengan suguhan gugusan tebing yang masih perawan. Sepertinya gugusan tebing sepanjang pantai seram barat ini cocok untuk pembuatan jalur baru panjat tebing. direkomendaskan bagi mereka yang ingin membuat jalur panjat tebing. Tingkat kesulitannya variatif, mulai dari lintasan vertical, overhang, hingga roof. Bahkan dari kejauhan sudah bisa dilihat beberapa goa DAS di sepanjang gugusan tebing ini.
            Menjelang sore, akhirnya kapal masuk kedalam hole yang besar, inilah ambon :D lautnya teduh tertutup hole yang melindungi ambon dari ganasnya gelombang laut lepas.
Sunset di Ambon
Suasana kumuh di pelabuhan laskar
anak-anak nampak riang mandi di laut yang kotor
"INDONESIA"
            Seiring langit ambon yang menjingga, menjelang sunset kapal sandar di pelabuhan laskar (S30 40’ 46.0” E1280 11’ 30.6” ± 0 mdpl). Sebuah pelabuhan kecil di Batu merah, terlihat kumuh dan kotor karena kegiatan pasar tradisional di sekitar pelabuhan.
            Ambon hanya sebuah awal dari rangkaian awal sebuah perjalanan panjang menuju puncak binaiya. Puncak tertinggi di gugusan kep Maluku (baik Maluku Tengah maupun Maluku Utara).
            Dan bukanlah sebuah perjalanan jika tanpa hambatan, setelah badai, waktu yang molor di perjalanan (5 hari perjalanan dari P. Obi baru sampai Ambon). Sampai di ambonpun perjalanan masih saja molor. Chek point berikutnya adalah menuju pelabuhan Tulehu-Amahai (P. Seram). Karena terlalu sore sandar di ambon sehingga tidak memungkinkan lagi untuk mengejar jadwal kapal cepat di pelabuhan Tulehu.

Pelabuhan Tulehu
Terpaksa bermalam dulu di kota ambon, besok pagi (311211) baru dilanjut dengan angkot menuju pelabuhan Tulehu. Menggunakan kapal cepat dengan ongkos Rp. 96.000,00 menuju pelabuhan Amahai selama 2 jam. Dari pelabuhan amahai dilanjut dengan angkot menuju terminal masohi.
            Tidak jauh dari terminal Masohi (bisa dilanjut dengan ojeg pp) ada kantor TN Masohi, izin pendakian bisa di urus dari sini. Hanya sayang waktu ketika akan mengurus izin kantornya tutup sehingga perjalanan langsung dilanjutkan menuju tehoru. Dengan menggunakan mobil jurusan masohi-tehoru (Rp. 50.000,00). Dari tehoru naik ketinting / long boat, (Rp 50.000,00) menyebrang ke desa yaputih (S30 17’ 54.0” E1290 31’ 33.9” ± 0 mdpl).
Tehoru-Yaputih
naik Ketinting
Desa Yaputih
            Desa yaputih ini berada di pesisir pantai seram selatan menjadikannya titik awal pendakian Binaiya untuk jalur selatan. karena terletak di pesisir, kita anggap inilah titk 0 mdpl start awal untuk pendakian Binaiya.
            Next destination sekaligus menjadi basecamp terakhir untuk pendakian Binaiya adalah desa Piliana. Jalur dari Yaputih menuju desa Piliana sudah mendaki dengan medan yang lumayan variatif, Menanjak, menyebrangi sungai, berlumpur.
Malam di Piliana
            Sayang sekali, perjalanan dari Yaputih menuju Piliana ditempuh pada malam hari sehingga kurang bisa menikmati panorama alam sepanjang jalan. Sampai Piliana sudah larut malam. Tapi bayangan desa yang sunyi senyap tak nampak di sini. Rupanya warga sedang merayakan pergantian tahun. Terlalu terbawa perjalanan kadang buat kita lupa waktu. Saya baru ingat kalo ini tahun baru. Selama berada di piliana, anda bisa menginap di rumah bapak Raja (Kepala desa).
            sesampainya di rumah bapak Raja (S30 16’ 12.0” E1290 32’ 54.2” ± 425 mdpl), Kopi panas sudah tersaji. sayang bapak lagi sibuk dengan rangkaian acara tahun baru. Jadi hanya sebentar saja bisa menemani minum kopi. Gelapnya malam, rimbunnya hutan dan Segelas kopi panas disela kemeriahan warga menyambut pergantian tahun, sungguh paduan yang sempurna saat itu. Walau tanpa penerangan listrik dari PLN tak membuat surut semangat warga dalam merayakan tahun baru.
             
            tidak menyangka juga akan merayakan tahun baru di tempat yang pertama kali saya injak dengan orang-orang yang pertama kali juga saya kenal. Tahun baru di tanah orang tanpa seorangpun mengenalmu, terdengar aneh. Hahaha. Tapi dari sini saya menemukan sesuatu yang berbeda dari apa yang biasa mereka dapatkan.
            Sayang semua itu tak bisa saya nikmati lama, karena lelahnya perjalanan untuk bisa sampai di sini. Memaksa tubuh ini untuk merebahkan diri di atas kasur. Terlelap untuk kemudian terbangun esok pagi dengan banyak kejutan yang diberikan warga Piliana. to be continue to :

Perayaan Tahun Baru di Piliana Cakalele dan Legenda Kolam Ninipala









Senin, 26 Desember 2011

Kopi pagi rasa pyton di soligi





Sunset di Soligi

            Entah berapa banyak rencana yang disusun untuk pendakian solo estafet binaiya-rantemario ini. Hingga akhirnya dipilihlah rute yang tidak seperti biasanya, sekedar ingin merasakan perjalanan ‘ala orang timur’. Rute yang satu ini agak menantang, karena perjalanan menuju ambon akan ditempuh dengan menumpang kapal kayu kecil pengangkut kopra. Menurut info sebelumnya dari beberapa rekan, di soligi ini terdapat banyak kapal kayu kecil  yang mengangkut kopra untuk di jual ke ambon.
Panji, its begin...
            Tepat pukul 12.00 wit, 261211 petualangan dimulai dengan menumpang long boat eksplorasi menuju kampung soligi. Sebenarnya kampung soligi ini terletak masih di pulau obi, hanya berjarak 3-4 km (pengukuran dengan gps). Tapi, karena tidak adanya akses jalan darat sehingga harus ditempuh dengan penyebrangan laut.
              Setelah disapa sedikit gelombang tinggi di bulan desember, 40 menit saja sudah sampai di sebuah desa sederhana yang mereka sebut soligi. setelah turun dari longboat, style seorang diri dengan membawa ransel berukuran besar, segera saja menyita perhatian penduduk sekitar pantai. Baru beberapa menit saja menginjakan kaki di pelabuhan, sudah dikerumuni banyak orang. Allhamdullah, tak perlu cari orang untuk bertanya. Inipun sudah banyak orang yang bertanya.. hahahaa
-‘Mo pi mana mas (mau pergi kemana mas)???’
+kita cari kita pe temang, depe nama pak roby, taher jouronga pe saudara dari kawasi, kenalkah  (saya cari teman, pak roby namanya, saudara dari taher jouronga dari kawasi, kenal???)??
            Pak roby ini, saudara dari teman di tempat kerja. Dia menyarankan untuk singgah di rumahnya pak roby, biar nanti pak roby bisa bantu carikan informasi kapal yang akan berangkat ke ambon. Saya sendiri tidak mengenal langsung pak roby ini, belum pernah bertemu juga sebelumnya. Itu yang menjadikan sulitnya mencari pak roby. saya sendiri tidak mengenal pak robby … hehehehe
            Untungnya dari beberapa warga yang berkerumun, ada diantaranya saudara dari pak roby yang mungkin saya maksud. beramai-ramai sayapun diantar ke rumah pak roby. Dari kejauhan Nampak lelaki tua berumur 40-50 tahun tersenyum. Dari wajahnya, saya pikir dia dari ambon. Dan ternyata benar inilah pak roby saudara temanku itu.
            di rumah (S10 39’ 28.7” E1270 25’ 24.9” ±0 mdpl)sederhana inilah sementara saya numpang tinggal, makan, dan tidur untuk kemudian esok harinya menumpang kapal menuju ambon. Rupanya pak roby ini cukup gesit dan banyak kenalan orang kapal. Beberapa jam saja sudah dapat info keberangkatan kapal.tepat sekali rekomendasi temanku ini.. thanks brow. Hehehe
            inilah yang saya suka dan acungkan jempol dari ‘Timur’, kehidupan sosialnya. Sesuatu yang sudah lama hilang dari barat. Kalau dipikir lagi, saya tak kenal pak roby sebelumnya, hanya tahu dari seorang teman. Tapi cara mereka menjamu tamu, bahkan seseorang yang tidak dikenalnyapun, mereka anggap sudah seperti saudara sendiri. Welcome to the east…
            271211, Hujan yang turun dari semalam belum juga reda membuat malas untuk beranjak dari selimut tebal. Ironis padahal ini di pesisir pantai, karena cuaca yang menghitam akhir-akhir ini membuat suhu makin tak menentu. Teriakan bu roby menawarkan segelas kopi panas, trik yang cukup jitu untuk mengusir rasa malas di pagi ini.
            Pagi yang dingin dengan hujan yang masih berlanjut dari malam, kopi panas dan tembakau terasa pas dengan sikon seperti ini. belum juga anganku jauh memandangi gerimis di luar. Kembali, teriakan bu roby buyarkan lamunan di pagi ini.
-‘mas riki, tolong keluar sebentar, ada ular di luar…!!!’
+‘saya bu, sebentar…’
            Hadeuh… dalam hati, kenapa harus ular???? Binatang yang paling saya benci setelah pacet. Lebih baik bertemu babi hutan, daripada ular. Dengan terpaksa segera kusambar kamera dan berjalan keluar rumah. Awalnya kupikir paling hanya ular kecil saja. Ternyata ular pyton  sepanjang 3-4 meter dengan bagian perut yang agak membulat karena baru melahap satu ekor ayam milik warga. Telak, kehadiran ular ini menjadi kehebohan tontonan warga di pagi itu. Derasnya hujan tak membuat surut antusias warga untuk melihat reptile besar ini.
            Setelah cukup lama ular tersebut merangkak kesana kemari, kekhawatiran bu roby semakin menjadi ketika melihat ular tersebut merangkak masuk ke rumahnya.
‘mas riki, tolong tangkap ular itu, so mo masuk kita pe rumah..’ dengan cemas penuh harap bu roby meminta saya menangkap ular itu.
Segera saya melempar pandangan ke kerumunan warga, bertanya apa ada yang biasa tangkap ular disini?? Sial, ternyata tak ada yang biasa tangkap ular di sini.  Nampaknya sekarang warga hanya berharap saya menangkap ular itu.
Mungkin karena mereka sudah tahu saya seorang pendaki sehingga mereka pikir saya terbiasa dengan hal itu. Padahal, ular adalah hewan yang paling saya jauhi. Saya pendaki, bukan si Panji penakluk ular.. hadeuh. Dengan sangat terpaksa akhirnya memberanikan diri untuk menangkap pyton itu. Setelah 5 menit mencoba, berbasah-basah pula karena hujan, akhirnya kepala pyton sudah bisa saya genggam.
Dengan sedikit jijik, warga membantu memasukkan pyton itu kedalam karung, dan diarak beramai-ramai entah kemana… hahahaha. Yang penting tugas saya sudah kelar. Sudah siang, kapal di dermaga sudah menunggu. Inilah saatnya memulai petualangan kembali serta pamitan dengan bapak roby sekeluarga. Kopi pagi rasa pyton di soligi… pasti akan saya ingat. Saatnya mengarungi lautan ambon dan seram.
Sunset di Soligi


            to be continue to :  Dilempar Badai di Perairan Seram Terdampar di Temi

Senin, 05 September 2011

Tuhan Tidak Pernah Benar


Tuhan tidak pernah benar
Tuhan tidak pernah benar
Tuhan tidak pernah benar
Tidak pernah benar…
Perjalanan waktu seperti anak tangga yang membawa kita ke jenjang kedewasaan yang lebih tinggi, katanya. Tiap kita berdiri di tempat yang lebih tinggi, apakah yang anda lihat di bawah sana?? Tangis? Tawa? Atau anda yang menertawakan diri anda sendiri, betapa bodoh dan kekanak2annya kita dulu?? Hahahaha, btw, sampai kapan kita harus menertawakan diri kita sendiri…
         
Dulu, ketika saya masih hidup di jalan, ngamen di stopan, sering berdoa pada tuhan agar segera lulus sekolah dan bekerja. Mungkin dengan bekerja dan berpenghasilan lumayan saya tak perlu lagi keliling2 di stopan hanya untuk tambahan rokok. Dan sekarang saya sudah bekerja, penghasilanpun allhamdulillah di atas rata2 teman seangkatan dulu. namun ternyata bertambah penghasilanpun bertambah juga masalah hidup dan kekomplekannya. Sampai pernah minta lebih baik hidup di jalan seperti dulu, so free, tanpa beban,  tidak seperti sekarang. mulai terasa beban  hidup ini. Tuhanpun tidak pernah benar.

Berapa kali dalam jenjang kehidupan saya  tuhan tidak pernah benar, pernah juga berdoa untuk dipertemukan dengan wanita yang saya tunggu dan sudah saya idamkan sejak smp dulu. dimata ini seperti itulah wanita baik-baik versi saya.pernah terlintas untuk menemuinya ketika sma saja, ah tapi zaman sma hidup saya masih berantakan, saya ingin menemuinya hanya dalam keadaan dimana saya sudah siap setidaknya mapan dan hidup normal seperti orang lain pada umumnya, bukan luntang-lantung g jelas di stopan.
Setelah saya mapan dan hidup lebih baik Tuhanpun mendengar doa saya, tidak hanya dipertemukan, lebih dari itu, kita sempat menjalin hubungan jawaban atas doa saya selama 7 tahun, walaupun harus dijalani dengan sabar, tak mudah saya bekerja di Kalimantan sementara dia kuliah di bandung. Masalah demi masalah warnai hubungan kami, akhirnya hubungan inipun dengan pahit harus diakhiri.

Siapa yang harus disalahkan atas semua ini??? Kembali, lagi-lagi Tuhanlah yang disalahkan, Tuhan tidak pernah benar, dan selalu  salah dalam menempatkan posisi saya dalam garisan takdirnya… Kalau seperti ini jadinya kenapa harus dipertemukan lagi dengannya, Tuhan??? Tuhanpun disesalkan, seandainya tidak pernah bertemu mungkin takkan berakhir seperti ini.

Tuhanpun selalu salah dan sering di complain, salah pilih profesi untuk saya, salah pilih keahlian, salah pilih cerita cinta untuk saya, salah pilih penyakit untuk saya…
Saya terlahir dan sampai sekarangpun masih tetap cadel, sering saya merasa minder ketika harus bicara didepan umum. Tapi, bukankah gara-gara itu saya jadi  bisa mainkan harmonica dan gitar juga biola??? Suara harmonica sebagai ganti vocal tentu lebih terdengar harmonis dan unik. Di samping itu juga orang-orang akan lebih mudah mengingat saya yang cadel ini bukan?? Karena saya unik, y unik kata itu yang sering kita lupakan dan parahnya justru dianggap kekurangan. Saya mestinya bersyukur karena saya unik dengan semua beban ini saya masih hidup dan masih berdiri.. saya dengan uniknya penyakit saya masih sanggup menapaki puncak2 gunung yang terkenal maut dan angker seorang diri, itu unik. Syukuri ;)
Sekarang, ketika tabungan pengalaman dan kesulitan telah bertambah, hidup dibawah bayang2 kematian (bagi saya pengidap kanker, kematian hanya masalah waktu saja), badan dan jiwa mulai lebih tahan bantingan, terlihat jelas, betapa naif dan kekanak-kanakannya saya pernah jadi manusia.
         
Yang membuat saya super heran, kalau bertemu orang dengan umur yang jauh lebih tua dari saya, tetapi memiliki tingkat kekanak2an yang sama dengan saya dulu.
Kapan kita sadar dan menertawakan diri kita ketika dulu mengatakan Tuhan tidak pernah benar??? nanti, akan ada waktunya untuk kau tersadar. Ketika semua masalah sudah sangat sesak di kepala, dan siapapun atau apapun yang kau punya bahkan yang kau inginkan dulu tak bisa membantumu untuk keluar barulah kau sadar. Bahwa kita hanya hamba, hidup hanya untuk ibadah, kalo g syukur y belajar ihklas. Ingatkan kembali tentang ujung jalan ini kemana… tempat yang sama.  Tersentak ketika membaca catatan saya sendiri (NHL (Non Hodskin Lymphoma) Vs Me)“Jangan bicara tentang iman, tulus dan kesabaran sebelum cobaan menyentuh dasar hatimu, karena Tuhan paling tahu titik terlemah di hatimu” lagi, hanya sederet kata itu yang setidaknya bisa maklumi semua perlakuan nasib pada saiah. Mungkin ini  jalan lain kesana, ingat hidup ini berujung kemana, dan tujuan kita sebenarnya kemana…

Semoga Tuhan memang benar, dan saya percaya dengan arrohman dan arrohimMU. Karena kebahagiaan atau kesedihan itu sendiripun sebenarnya masih pilihan kita dalam menyikapi masalah, hanya cara pandang saja. Percayalah Tuhan menurunkan kita ke dunia ini bukan untuk bersedih, berbahagialah…
Terimakasih untuk tiap anak tangga yang sudah saya lewati, semua itu sangat berati buat saya mengenal hidup walaupun harus sering tertawa mengingatnya. Tapi itulah hidup.. maaf untuk saya yang sok bijak, saya tak punya apa-apa untuk diceritakan hanya setapak demi setapak jalan hidup yang sudah tergenang air hujan, walaupun samar semoga kita bisa bercermin dari jejak yang ada, ambil indahnya, ambil hikamahnya, hadapi saja;)
hadiah untuk jiwa yang sudah lelah di usianya yang muda, 5 september 24 tahun. maaf belum bisa beri sesuatu yang lebih beharga daripada ini, semoga kau bisa merenung jauh lebih dalam, lelap...

Kamis, 01 September 2011

Anggrek Tanah


(Spathoglottis plicata Bl.) dibudidayakan sebagai tenaman hias karena bunganya yang ungu memang cantik. Seperti anggrek umumnya, anggrek tanah hidup di suhu sekitar 28 derajat celcius. Tanaman ini juga membutuhkan perawatan intensif, terutama kebutuhannya pada air.
Di tempat di mana saya bekerja, pulau obi, Halmahera selatan, Maluku utara. Di sini anggrek tanah tumbuh seperti ilalang, sangat mudah dijumpai banyak dan bebas di alam. Warga lokal pun jarang ada yang tahu kalo bunga yang bewarna ungu ini masuk kedalam keluarga anggrek.

Kandungan:
- polifenol. Kandungan polifenol terdapat pada umbi, daun dan akar.
- saponin. Kandungan saponin terdapat pada daun.

Khasiat:
- Obat radang telinga. Untuk menjadikan anggrek tanah sebagai obat, umbi dicuci
lalu ditumbuk hingga lumat dan peras. Hasil perasan diteteskan pada telinga yang sakit.
- Obat TBC
- Obat gangguan telinga



Baca juga:

NHL (Non Hodskin Lymphoma) Vs Me



Rabu, 24 Agustus 2011

Pendakian Estafet Rinjani-Tambora-Kellimutu dan Travelling p. obi-jawa-bali-lombok-sumbawa-flores


Rute rutinitas cuti
pemanasan
sunset di atas kapal km sumber raya perjalanan dari obi-ternate
@panji menunggu jemputsn speed
speed boat yang dipakai ke pelabuhan jikotamu
sunset di atas km sumber raya
view dari panji, tempat kapal sandar di p. obi
             Mesti terbiasa dengan perjalanan panjang ini, tapi saya menikmatinya.. hhheu. Seperti biasa perjalanan ini dimulai dari p. obi, Halmahera selatan, Maluku utara (tempat dimana saya bekerja). Dari site naik speed boat 3 jam ke pelabuhan jikotamu. Nampaknya saya akan dapat pengalaman baru lagi dari kehidupan masyarakat timur. Kebetulan teman satu kerjaan, orang jikotamu asli suku buton nikah di hari ketika saya cuti. Lumayan bisa lihat langsung nikahan ala ‘timur’.
tamu undangan di nikahan teman ala timur
Mungkin buat orang timur ‘ritual’ pernikahan, mereka anggap biasa. berbeda dengan saya, karena saya lahir dan besar di tanah sunda. Jadi, menyaksikan adat pernikahan mereka adalah pengalaman tersendiri dan unik. Satu hal yang akan saya ingat adalah tentang lamanya mereka menggelar pesta. Di timur pesta pernikahan bisa berlangsung dari pagi sampai malam, menjelang shubuh malahan. Pakaian yang mereka kenakanpun terlihat glamour, pengantin memakai kostum gaun dan jas ala eropa.
tamu undangan sedang menari khas timur

setelah tamu undangan kumpul, pengantin
berjalan mengelilingi
tamu undangan sebagai tanda penghormatan
Tamu undangan yang datang mayoritas menggunakan gaun dan jas bahkan anak-anak kecilpun mereka dandani sedemikian rupa hingga terlihat lucu-lucu. Uniknya lagi semakin malam, tamu undangan yang datangpun sudah ga jelas, hahaha. Pasti bau minuman, mayoritas orang timur adalah drunken master. Sehingga begitu menjelang malam, sayapun memutuskan untuk pulang ke pelabuhan dan menikmati malam di atas kapal.
setiap kapal transit di pelabuhan
disambut oleh banyaknya penjual
makanan, yang pasti sea food.
Besoknya, perjalanan di lanjut dengan kapal kayu selama 1 hari 1 malam menuju ternate. Dari ternate barulah ada bandara udara, 3,5 jam berada di atas awan bukan hal yang menyenangkan. I hate fly, membosankan.. landing di Jakarta, lanjut travel ke bandung, tanah kelahiran.
bandara udara sultan babullah ternate
            Tapi, pulang ke bandung bukan berarti pulang ke rumah, Hheu. Karena ada teman yang nikah, teman sebangku sma dulu. Kebetulan saya cuti, jadi menyempatkan diri untuk datang sebelum saya pergi menikmati pantai kuta. Xixixixi. Terdengar aneh memang, ke bandung tapi tidak temui orang tua, allhamdulillah orang tua selalu dan bisa mengerti keadaan saya.
jalanan buah batu bandung
taman cilaki bandung,
tempat yang penuh kenangan buat saya
slamat menempuh hidup baru teman,
Retno dyah utari, bandung.
            Setelah menghadiri pesta teman, tak pikir panjang lagi.. langsung saja go to soetta dengan tujuan bali. Ada pembengkakan anggaran untuk petualangan kali ini karena waktu cuti bertepatan dengan liburan dan long week end otomatis harga tiket pesawat selangit. Dengan air asia saja yang terbilang maskapai termurah dibanding yang lainnya soetta-ngurahrai 1 jt, lion bekisar 1,3 jt mungkian karena malam valentine juga, 130211.
  

Bali
tanah lot, bali.
hard rock cafe kuta
ngurahrai airport
             130211, malam valentine @ngurahrai.. g pernah mimpi bisa juga orang seperti saya menginjak bali. Tanpa pikir panjang sayapun langsung kontek teman, dan minta saran untuk penginapan, walaupun dia menawarkan untuk tinggal di rumahnya di daerah pendidikan, denpasar. Tapi, sayang dia sudah berkeluarga dan saya tidak ingin merasa canggung, ingin bebas saja, lebih baik di penginapan.
kuta, bali.
sepanjang jalan di bali anda akan dengan
sangat mudah menjumpai sesajen
            Atas saran teman dan berbagai pertimbangan, sekitaran melasti jadi tempat pilihan menginap. Tempatnya lumayan sepi, nyaman untuk beristirahat. tidak terlalu jauh juga ke pusat keramaian. Anda bisa berjalan kaki dari melasti ke kuta-legian. Sekedar saran untuk penginapan, cari yang asal bisa istirahat dengan nyaman tak usah cari yang mahal-mahal. Karena tentunya waktu di bali tidak akan anda habiskan di kamar hotel, pasti lebih sering diluar untuk jalan-jalan. Penginapan hanya tempat untuk tidur dan mandi serta penitipan barang, hheu. Untuk kalian penggila keramaian bisa menginap di daerah popies 1 atau 2, hanya saja di sana agak rawan. Bukan dalam artian criminal lebih tepatnya lagi sarang maksiat. Harga penginapan di bali dimulai dari 80 rb-jutaan/malam.
            Begitu sampai penginapan, tanpa ganti pakaian ataupun berlama-lama. Langsung saja sambar kamera pergi ke pantai kuta. Malam valentine, sudah pasti banyak suguhan acara menarik di sana. Sayangnya saya sendiri, aneh ketika berjalan di tengah keramaian, diantara canda orang-orang mereka yang berpasangan. Saya enjoy saja nikmati pantai sendiri sampai larut malam. Apa saya baik-baik saja????? Wkwkwkwk
taman layung
            Kembali ke penginapan sekitar jam 2 pagi. Di sambut senyum ramah penjaga penginapan sambil berbisik, ‘mas sendiri y?? butuh teman cewe g?? kalo mw, saya ada banyak anak sma, masih muda mas, gmn?? Murah ko..’ welcome to bali L, tempat dimana dijaminnya kebebasan. Hal negative yang di bawa bule ternyata lebih dominan daripada hal positivenya. Hanya tersenyum miris melangkah ke kamar ‘maaf pak, saya bukan orang seperti itu…’

kuta, sepertinya tempat ini cocok buat ajak makan someone
            Esoknya (140211) bangun pagi sekali dan menghabiskan waktu dengan jalan seharian hunting-hunting foto sepanjang kuta-legian. Sore harinya silaturahmi ke rumah teman yang ada di daerah pendidikan, Denpasar. Alm mas erwan teman satu kamar saya dulu waktu sama-sama dirawat di rs santosa, bandung. Beliau adalah inspirasi saya menjalani hidup dengan kondisi saya seperti saat ini, tak mudah kawan hidup dibawah bayang-bayang kematian. Alm adalah orang yang paling bersemangat menjalani hidup. Bayangkan saja dengan kondisi tubuh yang lemah, rambut rontok, setelah menjalani kemo 8x bahkan setelah sel darah putihnya habis dan harus di suntik dari luar untuk penambahan sel darah putih Alm masih menyempatkan diri untuk umroh ke tanah suci.. subhanallah.
alm mas erwan dan anak2nya

jalanan kuta
Setelah berbingcang sampai malam dengan alm mas erwan, malam harinya pamitan pulang. Diantar Alm sampai penginapan, padahal saya sudah bilang mau naik taksi saja. Dengan kondisinya yang seperti itu Alm masih saja memaksakan diri untuk mengantar saya ke penginapan bahkan sempat jalan-jalan menikmati malam di Bali.
mobil carteran
taman layung
Sampai di penginapan sudah larut, langsung mandi kemudian tidur. 150211 bangun pagi lagi bergegas cari carteran mobil untuk keliling bali. Lumayan dapat yang murah 250 rb sudah termasuk supir dan bensin. Lamanya waktu sewa dari jam 8 pagi sampai jam 6 petang. Kalau rombongan mungkin akan terasa ringan. tapi saya sendiri, jadi, untuk akomodasi seperti ini perlu dana ekstra.
monkey forest
            Berbekal kamera dan teman ngobrol sang supir sekaligus guide, akhirnya mulailah menapaki bali, sendiri saja menikmati tanah lot, taman layung, monkey florest dan berakhir di ubud. Kembali ke penginapan seperti biasa larut malam.




Lombok
pendakian 
G. Rinjani


sembalun, lombok timur. dihadang kabut yang tebal.
Selaparang airport, Mataram.
Gerbang menuju senggigi beach
           160211, setelah puas berada di Bali perjalananpun berlanjut ke Lombok. Dari ngurahrai-selaparang terbang dengan merpati (188 rb, tiket promo 160211). Di Lombok menginap di rumah paman daerah mataram. Allhamdulillah ada kel di sana. Mengurangi budget untuk penginapan hehehe. Sampai di Lombok, tanpa tunggu lama ditemani keponakan langsung pergi ke pantai senggigi berburu sunset di sana.
Mobil Carteran
ngumpul @udayana,
mirip malioboro di yogya
            170211, Dengan menyewa mobil 250 rb saya sekaligus kel paman saya pergi bersama ke sembalun. Kebetulan paman punya orang tua angkat di sembalun sana. Beliau pernah lama tinggal di sembalun ketika membangun irigasi di sana. Dari awal pemberangkatan banyak info yang mengatakan jalur pendakian untuk rinjani ditutup. Tapi karena saya orang yang keras kepala tetap saja berangkat ke sembalun dengan harapan ada jalan lain untuk naik rinjani.
kabut tebal di sembalun
maskot sembalun, bawang putih.
            Sesampainya di sembalun disambut cuaca buruk, kabut tebal menutupi desa sembalun. Bahkan rinjani sama sekali tak nampak, tertutup kabut. saya dan pamanpun bergegas mencari info tentang ditutupnya jalur pendakian ke rinjani. Dan benar saja ternyata memang ditutup jalur kesana. Terlintas untuk tetap ngotot naik mengingat saya sudah melangkah sejauh ini. Namun saya urungkan niat itu, bisa saja saya naik lewat jalan tikus yang ditawarkan warga sekitar tanpa ketahuan petugas. Namun, semuanya mentok pada kata ‘menghargai’.
Kebun milik orang tua angkat di
sembalun
            Mungkin itu sikap yang diambil untuk menghormati warga sembalun. Saya berpikir, warga sekitar saja para nelayan yang biasa mencari ikan di sagara anak patuh pada aturan itu dan tak ada warga sekitar yang melanggar untuk naik rinjani. Masa saya pendatang mu ‘culanggung’ naik ke sana???.
            Dengan perasaan kecewa meninggalkan sembalun kembali ke mataram, kediaman paman. Dan hendak melanjutkan perjalanan ke p. Sumbawa G. tambora. Awalnya saya mw pergi naik pesawat dengan asumsi bisa menghemat waktu perjalanan.  Ah, tapi setelah melihat jarak bandara yang terletak di kab bima cukup jauh dari tambora yang berada di kab. Dompu, sama saja dengan jalan darat beda tipis.
sumbawa 
pendakian G. tambora 2851 mdpl 
The greats crater in indonesia



tambora mt
The greats crater in indonesia
bis sinar langsung, terminal mandalika, mataram, lombok.

pelabuhan kayangan
jatah makan gan.
sunset di perjalanan diatas kapal
kayangan-tano
 180211, dari terminal mandalika dengan bis sinar langsung pergi meninggalkan Lombok menuju Sumbawa. Untuk agen bis saya merekomendasikan sinar langsung karena perjalanan ke Sumbawa memakan waktu cukup lama. Dan anda butuh bis yang nyaman untuk isirahat karena perjalan ditempuh dalam waktu sekitar 12 jam dengan bis langsung tidak menaikkan penumpang di tengah jalan. Ongkosnya 150 rb, dapat makan satu kali bisa dinikmati setelah anda menyebrang dari pelabuhan kayangan-p. tano(sumbawa). Begitu sampai di tano anda bisa menikmati hidangan yang telah di siapkan agen bis.
sunset di perjalanan diatas kapal
kayangan-tano

sunset di perjalanan diatas kapal
kayangan-tano
            Sampai di p. Sumbawa, minta turun di cabangbanggo. Cabangbanggo ini jalan cabang apakah akan melanjutkan perjalan ke bima atau dompu. Sampai di cabangbanggo sekitar pukul 3 pagi 190211 dari mataram 3 sore 180211. Dari cabangbanggo anda bisa meneruskan perjalan menggunakan bis kearah calabai minta turun di desa dhoropeti.
            Sebaiknya anda berhati-hati begitu tiba di cabangbanggo, calo di sini rese dan kurang ramah. Bisa dimaklumi, kebanyakan kota transit memang seperti itu. Sayapun sempat ribut dengan beberapa calo di sana karena mereka meminta bayaran terlalu mahal. Bayangkan saja ongkos yang biasanya 15 rb mereka minta 50 rb.
            Saya sudah meminta untuk kembali menurunkan ransel saya dari bis dan menunggu bis lain. Tapi untung ada seorang pemuda yang keluar dari bis dan membantu saya. Meminta para calo untuk tidak mengganggu saya dan berkata saya adalah temannya. Para calo akhirnya pergi dan membiarkan saya naik bis.
            Di dalam bis berkenalan dengan pemuda tadi, namanya Anto. Rupanya dia warga gunung sari, desa di bawah kaki tambora. Katanya dia sempat mendengar percakapan saya dengan para calo tadi. Anto mendengar saya mau naik tambora.
            ada percakapan yang tidak bisa saya lupakan ketika berkenalan dengan Anto ini.
A: mw apa mas naik tambora??? Mw cari keta? Madu? Ayam hutan atau babi??
S: ??!@#$%?? Y, naik saja menikmati alam…
A: naik gunung g nyari apa-apa?? Aneh.. saya juga biasa naik tambora untuk cari keta, mas kan naik sendiri, jadi nanti biar saya temani.
S: mantap, boleh kalo mau temani.. saya senang ada teman.
Anto melihat saya dengan tatapan aneh sayapun demikian, apa orang ini tidak tahu kalo di dunia ini ada hobi yang disebut ‘MENDAKI’. Aneh…
tempat tinggal keluarga anto
Dapur mereka, indonesia..
tempat tinggal keluarga anto
            Begitu sampai di desa g. sari sekitar pukul 7 pagi, 190211. saya diajak ke rumah Anto, barulah saya mengerti kenapa dia menatap aneh saya ketika saya katakan naik gunung ingin menikmati alam. Rumahnya benar-benar jauh dari kata layak.. maaf, gubuk dari jerami dan kayu sudah belubang disana-sini, terasing sendiri di tengah ladang tanpa listrik dari PLN.
Malam tanpa penerangan PLN.
Hanya lampu obr Saja
Begini gelapnya kalau tanpa cahaya flash
            Bagi warga desa g. sari naik g tambora mencari keta adalah mata pencarian sampingan mereka selain berladang. Keta adalah tanaman hias yang daunnya bisa dirangkai sedemikian rupa untuk hiasan. Banyak pengrajin di sana yang siap membayar untuk setiap karungnya. Selain keta mereka juga mencari madu, ayam hutan atau berburu babi hutan.
            Dikediaman anto sayapun mengenal pak syahwil, tetangga anto yang  ladangnya bersebelahan. Setelah berbincang dengan pak syahwil tentang maksud kedatangan saya ke desa g. sari. Pak syahwilpun ingin menemani saya naik tambora.
            Setelah kami makan di rumah anto, akhirnya kami bertiga bergegas memulai pendakian tambora pada jam 12 siang 190211. Banyak hal yang membuat saya miris ketika mengenal mereka. Dari makanan saja saya sudah miris saksikannya.
            Karena saya dianggap tamu, dan mereka biasa menyambut tamu dengan makanan yang mereka anggap paling istimewa. Dan makanan istimewa itu adalah mie instan rebus.. saya jadi heran dan bertanya, kalo mie instan makanan istimewa bagi mereka. Sehari-harinya mereka makan apa?? ‘ini z mas rumput-rumput yang tumbuh di sekeliling rumah’. hadeuh. Saya pikir bangsa ini sudah merdeka.. ternyata, masih ada warganya yang hidup seperti ini.
            Rumah mereka yang jauh dari kata layak ironis dengan hinggarbingar renovasi gedung DPR yang jelas-jelas orang yang menikmati fasilitas di DPR itu wakil mereka. Wakilnya enak-enakan makan tidak kekurangan, tapi bosnya kok seperti ini???
            Ternyata cerita tak hanya sampai di rumah dan makanan sehari-hari mereka. Bahkan ketika kami hendak memulai pendakian, kembali saya harus mengerutkan kening lagi. Melihat mereka telanjang kaki. Membuat saya bertanya, ‘kalian yakin tidak akan memakai sepatu???’, ‘sayang bang sepatu itu untuk ke kota’ baru kali ini lihat orang naik gunung dengan telanjang kaki. ‘y sudah nanti di desa kita beli sandal dulu sekalian makanan buat nanti kita di atas’.
            Di warung desa kami singgah dulu untuk perbekalan di atas sekalian beli sandal untuk mereka. Lagi, lagi dan lagi harus dibuat geleng-geleng dengan ulah teman baru saya ini. Sandal yang baru saya beli, tidak mereka pakai. Diikat dengan tali dan di gantungkan di celana. Spontan saya bertanya kenapa g di pake?? ‘sayang bang masih baru, buat nanti saja..’ speechless…
Marker yang tersisa
Marker yang tersisa
sumber air sebelum pos 4
marker menuju puncak
            Rute untuk naik ke tambora ini agak remang-remang karena pendakian ke tambora tidak seramai pendakian di rinjani. Walaupun letak keduanya berdekatan. Jalur yang sudah ada tertutup kembali oleh lebatnya hutan tambora. Marker yang ada pun sudah banyak yang hilang.
Jelatang bulan
jelatang lidah kerbau
            Naik ke tambora dengan keadaan jalur seperti itu sama saja dengan membuat jalur kembali. Sepanjang jalan tak lelah tangan ini menebas ilalang-ilalang yang sudah tinggi. Sering juga dijumpai tanaman jelatang jenis lidah kerbau atau bulan sebaiknya anda berhati-hati dengan tanaman yang satu ini bisanya cukup membuat kulit anda terasa panas dan gatal paling tidak untuk seminggu.
Kemalaman di pos 3
            Karena pendakian dimulai pada siang hari, sampai di pos 3 kami kemalaman dan mendirikan tenda disana. 200211 paginya baru kembali melanjutkan pendakian. Trek yang mesti kami lewati kali ini lebih parah dari jelatang dan sangat saya benci, pacet. Sepanjang jalan harus sering memeriksa sepatu. Sering saya temukan paling tidak 5 sampai 6 pacet sudah merayap di sepatu.
pacet merayap di sepatu
pacet merayap di sepatu
pacet merayap di sepatu
            Tapi, tentunya yang paling parah adalah kedua teman baru saya ini, karena mereka tidak memakai alas kaki. Bahkan saya sadar kalau trek yang kami lewati terdapat banyak pacet justru dari mereka. Ketika anto mengeluh kenapa kakinya terasa basah. Begitu sadar, ternyata basah karena kakinya sudah banyak mengeluarkan darah digigit pacet, dan ntah berapa banyak pacet yang sudah bersarang dikakinya.
pos 4
Perjalanan menuju puncak
            Setelah kami keluar dari lebatnya hutan tambora dan kini berganti menjadi vegetasi ilalang dengan beberapa pohon cemara yang tumbuh. Dari sini puncak sudah terlihat. Ada juga semacam bangunan panggung dari kayu, ini pos 4. Di pos 4 ini kami mendirikan tenda. Dan langsung summits attack dengan membawa barang seperlunya.
            Perjalanan ke puncak kami tempuh dalam waktu 1 jam. Pemandangan di puncak sungguh mengagumkan. Anda bisa melihat kawah terbesar di Indonesia dengan Lebar kawah sepanjang 7 Kilometer dan keliling kawahnya sepanjang 16 Km memiliki jarak antara puncak dengan dasar kawah sedalam 800 meter.
view @puncak
view @puncak
view @puncak
            Dan kawah ini terbentuk akibat letusan tambora pada tahun 1815 yang besar letusannya 4x letusan Krakatau. Karena letusan ini pula, tambora yang memiliki ketinggian 4300 mdpl kini menjadi 2851mdpl hampir setengah ketinggian gunung ini hilang akibat dashatnya letusan kala itu.
view @puncak
            sepanjang sejarah dunia, letusan tambora ini yang paling memakan banyak korban baik langsung ataupun tak langsung.
            Setelah cukup menikmati puncak, kamipun bergegas kembali ke tempat kami mendirikan tenda di pos 4. Dan bermalam di sana. Baru besok paginya kami pulang ke desa.
view @puncak
edelweis belum berbunga
            Tadinya sesampai di desa saya mau langsung melanjutkan perjalanan ke flores. Tapi, anto dan pak syahwil menyarankan untuk melepas lelah dulu di tempat mereka. Atas desakan mereka akhirnya saya menginap satu malam di rumah anto.
Karena di rumah mereka tidak ada listrik untuk charger hp dan kamera. Malam harinya kami mendatangi kepala desa gunung sari yang kebetulan punya genset. Dengan membeli bensin akhirnya bisa chas hp dan kamera.
Bermalam di rumah yang sederhana di tengah ladang tanpa penerangan dari PLN pengalaman tersendiri buat saya. Menjelang malam harus siap perang dengan babi hutan yang merusak ladang. Tak jarang babi juga melintas di kolong rumah.
rumah kepala desa
Sepanjang perjalanan ketika naik tambora ada perbincangan menarik dengan mereka. Saya tertarik dengan kehidupan mereka, membuat saya banyak bertanya tentang mata pencaharian mereka. Kebanyakan mereka berladang tapi itu bukan hal yang menyenangkan untuk hidup. Karena hasil dari berladang tidaklah seberapa. Mereka mengeluhkan tentang modal yang kurang untuk memulai berladang. Modal untuk beli bibit, pupuk dan insektisida.
Sebagai ucapan terimakasih karena telah menemani mendaki dan banyak membantu saya selama di atas sana. Saya pun mengusulkan pada mereka, bagaimana kalau masalah modal saya yang tanggung semua.. mulai dari bibit, pupuk hingga insektisida. Mereka hanya menanam saja dan merawat, nanti keuntungannya kita bagi 3. Allhamdulillah sudah 2 bukit kami kelola bersama.